Kamis, 22 Maret 2012

Menyikapi Perbedaan dengan Hati


Dalam menyikapi suatu kejadian, seringkali kita berbeda pandangan dengan orang-orang di sekitar. Sebuah hal yang wajar, karena kita semua memiliki latar yang berbeda-beda. Namun akan menjadi kurang wajar ketika perbedaan itu yang lebih kita kedepankan. Ada hal kurang baik yang seringkali menyertai diri ketika kita sedang mengalami sebuah perbedaan pandangan: kita menganggap diri paling benar. Dengan anggapan ini membuat diri kita pada akhirnya kehilangan kemampuan menghargai orang lain.
Sebagaimana kita, orang lain pun memiliki dasar pemikiran sendiri dalam sebuah perbedaan pandangan. Terlepas dari keabsahan dasar pemikiran itu dan kedalaman perenungannya, dasar pemikiran yang mereka punya hendaknya kita hargai. Hal itu merupakan wujud dari usaha mereka menyikapi kejadian yang menghampiri.
Mungkin sebagian orang beranggapan perbedaan pandangan itu perlu diluruskan. Tidak ada yang salah memang dengan pernyataan itu. Meluruskan perbedaan pandangan merupakan sebentuk kepedulian kita pada orang lain. Namun yakinlah Sahabat, ketika kita tidak mampu terlebih dahulu menumbuhkan rasa menghargai terhadap diri mereka dan menghilangkan jauh-jauh anggapan bahwa diri kita paling benar, maka perbedaan pandangan itu tak akan pernah bisa diluruskan. Yang ada hanyalah perselisihan, yang mungkin akan berujung pada pertikaian.
Bukankah tugas kita “hanyalah” mengingatkan, Sahabat? Kita tidak disuruh untuk memastikan seseorang yang diingatkan itu mengikuti apa yang kita anjurkan? Karena Sahabat, apa yang kita yakini benar itu merupakan refleksi dari apa yang kita pahami, dengan segala kedangkalan ilmu dan keangkuhan yang ada dalam hati kita. Lalu beranikah kita menjamin bahwa segala yang kita yakini benar itu juga benar di hadapan-NYA?
Oleh karena itu Sahabat, sikapilah perbedaan itu dengan hati. Ketika kita penuhi satu hak orang lain dengan meluruskan apa yang kita anggap tidak sesuai dari dirinya, maka kita perlu penuhi pula hak-hak lain atasnya secara berimbang. Jangan sampai kepedulian kita itu “mencederai” hak mereka yang lain.. Semoga kita bisa, Sahabat..

Konsisten dengan Sikap


Dalam bersikap, terkadang tanpa sadar kita masih melihat kepada siapa sikap tersebut diperuntukkan. Akhirnya standar sikap pun jadi berubah-ubah. Dalam hemat penulis, setidaknya ada tiga hal yang melatarbelakangi perubahan standar sikap itu. Pertama, rasa sayang yang berlebihan. Kedua, rasa takut yang mengakar. Terakhir, kepentingan pribadi. Mari kita bahas lebih lanjut satu persatu.

Sahabat, ketika rasa sayang kita berlebihan terhadap seseorang, seringkali kita menjadi lunak padanya. Siapapun ia, bukan hanya anak istri, tapi bisa juga sanak saudara, sahabat karib, rekan kerja, tetangga, dan lain sebagainya. Rasa sayang tersebut mempengaruhi sikap yang harusnya kita terapkan padanya sehingga tampak lebih “menguntungkan” baginya.

Lalu apa yang terjadi bila kita terus menerus dalam perasaan sayang yang berlebihan? Sahabat, ketika sayang itu berlebih, maka yang paling merasakan dampak buruknya adalah orang yang kita sayangi itu. Rasa sayang yang berlebihan bukan menumbuhkan, tapi ia malah “membunuh” secara perlahan.

Setidaknya ada dua hal dampak buruk yang mungkin terjadi. Pertama, ia tidak akan mampu mandiri. Karena ia merasa bahwa semua kebutuhannya telah dipenuhi. Semua kesulitannya selalu ada yang mengatasi. Kedua, akan timbul kecemburuan sosial dari orang-orang di sekitarnya.

Sahabat, rasa sayang itu sesuatu yang abstrak, sulit untuk diukur. Walaupun kita telah merasa cukup adil dalam membagikan sayang pada orang-orang di sekitar, kesan yang mereka tangkap akan berbeda-beda. Apalagi bila kita dengan sengaja membagikan rasa sayang yang berbeda, maka tentulah gejolak yang timbul akan semakin menjadi. Yang pada akhirnya akan membuat orang yang kita sayangi berlebih itu berada pada posisi yang sulit.

Kondisi lain yang melatarbelakangi perubahan sikap kita adalah rasa takut yang mengakar. Biasanya hal ini terjadi ketika kita harus bersikap di depan orang yang memiliki kuasa lebih dibanding diri kita. Dengan bersikap sesuai apa yang mereka senangi, kita berharap diri kita tetap berada dalam posisi aman.

Ketika dihadapkan pada orang yang punya kuasa, seringkali kita menyesuaikan sikap kita dengan keinginan mereka. Ada kekhawatiran sikap konsisten yang kita berlakukan membuat kita tampak salah di mata mereka. Padahal Sahabat, ketidakkonsistenan itulah yang pada akhirnya justru membuat kita menjadi dipersalahkan suatu saat kelak.

Latar belakang yang terakhir, perubahan sikap kita itu terkadang datang karena adanya kepentingan pribadi. Wujud dari kepentingan pribadi ini bermacam-macam. Umumnya bersifat keduniaan, seperti materi dan kedudukan. Ketika kita memilih konsisten dengan sikap, kita khawatir kepentingan pribadi itu tak akan bisa tercapai. Kita berusaha memuluskan jalan menuju pencapaian dengan “memoles” sikap yang kita lakukan.

Lalu hendak menjadi seperti apakah kita? Apakah kita rela diombang-ambingkan keadaan? Apakah kita nyaman menjadi orang yang plin-plan dalam menyikapi kejadian? Ingatlah Sahabat, lembaran-lembaran sejarah itu hanya diisi oleh mereka yang konsisten dengan sikapnya.. Semoga kita bisa..

they learn the world is a nice place in which to live.

If children live with criticism,
they learn to condemn.

If children live with hostility,
they learn to fight.

If children live with fear,
they learn to be apprehensive.

If children live with pity,
they learn to feel sorry for themselves.

If children live with ridicule,
they learn to feel shy.

If children live with jealousy,
they learn to feel envy.

If children live with shame,
they learn to feel guilty.

If children live with encouragement,
they learn confidence.

If children live with tolerance,
they learn patience.

If children live with praise,
they learn appreciation.

If children live with acceptance,
they learn to love.

If children live with approval,
they learn to like themselves.

If children live with recognition,
They learn it is good to have a goal.

If children live with sharing,
they learn generosity.

If children live with honesty,
they learn truthfulness.

If children live with fairness,
they learn justice.

If children live with kindness and consideration,
they learn respect.

If children live with security,
they learn to have faith in themselves and in those about them.

If children live with friendliness,
they learn the world is a nice place in which to live.

By Dorothy Law Nolte, Ph.D.

Rabu, 21 Maret 2012

Sebenarnya topik ini telah penulis sampaikan dalam posting beberapa waktu yang lalu, “Memilih untuk dewasa.” Namun beberapa kejadian yang berlangsung di sekitar kehidupan penulis, membuat penulis tergelitik untuk mengelaborasi lagi tentang topik ini. Sekedar mengingatkan diri penulis sendiri, dan sedikit banyak semoga memperluas pemaknaan bagi pribadi penulis.
Sahabat, penulis yakin, sekali waktu kita pernah mendengar kalimat pembuka di atas. Entah dari siapa kalimat ini tercetuskan. Sudah begitu lama rasanya, namun sungguh melekat di hati. Sering terngiang di dinding jiwa. Bagi penulis pribadi, kalimat ini lebih bersifat sindiran pada diri. Ya, karena di usia yang lebih dari seperempat abad, rasanya tidak sedikit dari momen-momen hidup penulis yang terlewati tanpa kedewasaan. Menurut hemat penulis, kedewasaan bukanlah sebuah anugerah yang sekali didapat lalu “menetap selamanya” pada diri kita. Kedewasaan itu perlu terus diasah dan dipupuk, agar ia menjadi bagian yang integral dengan diri. Karena tak jarang, ada saat dimana kedewasaan itu melemah, tergerus oleh tantangan hidup.
Lalu apakah sebenarnya “kedewasaan” itu? Mungkin tiap kita punya definisi sendiri-sendiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disebutkan bahwa “kedewasaan” adalah “keadaan telah dewasa”. Lalu, kata “dewasa” sendiri diartikan sebagai “kematangan pikiran dan pandangan.” Bagi penulis pribadi, kedewasaan adalah ketika kita mampu bertanggung jawab atas setiap perbuatan diri dengan mempertimbangkan dampak yang timbul atas diri dan lingkungan.
Setiap orang boleh berbuat apa saja, namun ia harus berani menanggung segala dampaknya. Ketika dampak itu hanya berkaitan dengan dirinya sendiri, rasanya pengambilan sikap menjadi begitu mudah. Kita tak perlu berpikir akan dampak yang dialami orang lain. Seperti halnya seseorang yang mempunyai sepetak kebun. Ia boleh saja membakar ilalang yang menumbuhi petak kebunnya itu. Namun asap “hasil” pembakaran tentulah akan beterbangan kemana-mana. Boleh jadi, tetangga di sekitar petak kebun itu menjadi terganggu pernapasannya.
Sahabat, pada dasarnya sikap hidup kita sehari-hari itu berdampak ke dalam dan keluar. Dampak keluar terlihat dari sejauh mana pengaruh sikap kita itu pada orang-orang yang berada di sekitar. Besar pengaruh itu berbeda-beda, tergantung sejauh mana kedekatan kita terhadap mereka. Entah itu kedekatan yang bersifat hubungan darah, persahabatan, formal, ataupun sosial-kemasyarakatan. Kekurangdewasaan sikap kita boleh jadi akan menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar, yang pada akhirnya akan menambah nilai buruk kita di mata Tuhan.
Dampak ke dalam diukur dari sejauh mana posisi kita terhadap orang-orang di sekitar. Semakin tinggi posisi kita, maka dampak ke dalam ini akan semakin besar. Dampak ini berwujud pada tanggungjawab yang harus kita emban. Dalam dunia formal bisa kita lihat, bahwa kesalahan yang terjadi di level bawah akan menyebabkan pejabat yang berada di level atasnya ikut menerima hukuman. Kesalahan yang dilakukan orang yang berada dalam wilayah manajerial kita merupakan satu beban yang harus kita pertanggungjawabkan.
Maka berhati-hatilah kita dalam bersikap. Jangan sampai sikap kita hanya sekedar lintasan emosi yang terwujud dalam perbuatan. Karena semua sikap kita akan dimintai pertanggungjawabannya kelak, berikut semua dampak yang menyertainya. Karena setiap sikap dewasa kita begitu berharga di hadapan-NYA, Sahabat..

Senin, 19 Maret 2012

askep anak dengan hydrocephalus



I. Defenisi
Merupakan sindroma klinis yang dicirikan dengan dilatasi yang progresif pada system ventrikuler cerebral dan kompresi gabungan dari jaringan – jaringan serebral selama produksi CSF berlangsung yang meningkatkan kecepatan absorbsi oleh vili arachnoid.
Akibat berlebihannya cairan serebrospinalis dan meningkatnya tekanan intrakranial menyebabkan terjadinya peleburan ruang – ruang tempat mengalirnya liquor.
Beberapa type hydrocephalus berhubungan dengan kenaikan tekanan intrakranial.

3 (Tiga) bentuk umum hydrocephalus :
A.Hidrocephalus Non – komunikasi (nonkommunicating hydrocephalus)
Biasanya diakibatkan obstruksi dalam system ventrikuler yang mencegah bersikulasinya CSF. Kondisi tersebut sering dijumpai pada orang lanjut usia yang berhubungan dengan malformasi congenital pada system saraf pusat atau diperoleh dari lesi (space occuping lesion) ataupun bekas luka.Pada klien dewasa dapat terjadi sebagai akibat dari obstruksi lesi pada system ventricular atau bentukan jaringan adhesi atau bekas luka didalam system di dalam system ventricular. Pada klien dengan garis sutura yag berfungsi atau pada anak – anak dibawah usia 12 – 18 bulan dengan tekanan intraranialnya tinggi mencapai ekstrim, tanda – tanda dan gejala – gejala kenaikan ICP dapat dikenali. Pada anak – anak yang garis suturanya tidak bergabung terdapat pemisahan / separasi garis sutura dan pembesaran kepala.

B. Hidrosefalus Komunikasi (Kommunicating hidrocepalus)
Jenis ini tidak terdapat obstruksi pada aliran CSF tetapi villus arachnoid untuk mengabsorbsi CSF terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit atau malfungsional. Umumnya terdapat pada orang dewasa, biasanya disebabkan karena dipenuhinya villus arachnoid dengan darah sesudah terjadinya hemmorhage subarachnoid (klien memperkembangkan tanda dan gejala – gejala peningkatan ICP)
C. Hidrosefalus Bertekan Normal (Normal Pressure Hidrocephalus)
Di tandai pembesaran sister basilar dan fentrikel disertai dengan kompresi jaringan serebral, dapat terjadi atrofi serebral. Tekanan intrakranial biasanya normal, gejala – gejala dan tanda – tanda lainnya meliputi ; dimentia, ataxic gait, incontinentia urine. Kelainan ini berhubungan dengan cedera kepala, hemmorhage serebral atau thrombosis, mengitis; pada beberapa kasus (Kelompok umur 60 – 70 tahun) ada kemingkinan ditemukan hubungan tersebut.

II. Fisiologi Cairan Cerebro Spinalis
a. Pembentukan CSF

Normal CSF diproduksi + 0,35 ml / menit atau 500 ml / hari dengan demikian CSF di perbaharui setiap 8 jam.
Pada anak dengan hidrosefalus, produksi CSF ternyata berkurang + 0, 30 / menit. CSF di bentuk oleh PPA;
1). Plexus choroideus (yang merupakan bagian terbesar)
2). Parenchym otak
3). Arachnoid
b. Sirkulasi CSF
Melalui pemeriksaan radio isotop, ternyata CSF mengalir dari tempat pembentuknya ke tempat ke tempat absorpsinya. CSF mengalir dari II ventrikel lateralis melalui sepasang foramen Monro ke dalam ventrikel III, dari sini melalui aquaductus Sylvius menuju ventrikel IV. Melalui satu pasang foramen Lusckha CSF mengalir cerebello pontine dan cisterna prepontis. Cairan yang keluar dari foramen Magindie menuju cisterna magna. Dari sini mengalir kesuperior dalam rongga subarachnoid spinalis dan ke cranial menuju cisterna infra tentorial.Melalui cisterna di supratentorial dan kedua hemisfere cortex cerebri.
Sirkulasi berakhir di sinus Doramatis di mana terjadi absorbsi melalui villi arachnoid.

III. Patofisiologi
Jika terdapat obstruksi pada system ventrikuler atau pada ruangan subarachnoid, ventrikel serebral melebar, menyebabkan permukaan ventrikuler mengkerut dan merobek garis ependymal. White mater dibawahnya akan mengalami atrofi dan tereduksi menjadi pita yang tipis. Pada gray matter terdapat pemeliharaan yang bersifat selektif, sehingga walaupun ventrikel telah mengalami pembesaran gray matter tidak mengalami gangguan. Proses dilatasi itu dapat merupakan proses yang tiba – tiba / akut dan dapat juga selektif tergantung pada kedudukan penyumbatan. Proses akut itu merupakan kasus emergency. Pada bayi dan anak kecil sutura kranialnya melipat dan melebar untuk mengakomodasi peningkatan massa cranial. Jika fontanela anterior tidak tertutup dia tidak akan mengembang dan terasa tegang pada perabaan.Stenosis aquaductal (Penyakit keluarga / keturunan yang terpaut seks) menyebabkan titik pelebaran pada ventrikel laterasl dan tengah, pelebaran ini menyebabkan kepala berbentuk khas yaitu penampakan dahi yang menonjol secara dominan (dominan Frontal blow). Syndroma dandy walkker akan terjadi jika terjadi obstruksi pada foramina di luar pada ventrikel IV. Ventrikel ke IV melebar dan fossae posterior menonjol memenuhi sebagian besar ruang dibawah tentorium. Klein dengan type hidrosephalus diatas akan mengalami pembesaran cerebrum yang secara simetris dan wajahnya tampak kecil secara disproporsional.
Pada orang yang lebih tua, sutura cranial telah menutup sehingga membatasi ekspansi masa otak, sebagai akibatnya menujukkan gejala : Kenailkan ICP sebelum ventrikjel cerebral menjadi sangat membesar. Kerusakan dalam absorbsi dan sirkulasi CSF pada hidrosephalus tidak komplit. CSF melebihi kapasitas normal sistim ventrikel tiap 6 – 8 jam dan ketiadaan absorbsi total akan menyebabkan kematian.
Pada pelebaran ventrikular menyebabkan robeknya garis ependyma normal yang pada didning rongga memungkinkan kenaikan absorpsi. Jika route kolateral cukup untuk mencegah dilatasi ventrikular lebih lanjut maka akan terjadi keadaan kompensasi.

IV. Etiologi dan Patologi
Hydrosephalus dapat disebabkan oleh kelebihan atau tidak cukupnya penyerapan CSF pada otak atau obstruksi yang muncul mengganggu sirkulasi CSF di sistim ventrikuler. Kondisi diatas pada bayi dikuti oleh pembesaran kepala. Obstruksi pada lintasan yang sempit (Framina Monro, Aquaductus Sylvius, Foramina Mengindie dan luschka ) pada ventrikuler menyebabkan hidrocephalus yang disebut : Noncomunicating (Internal Hidricephalus)
Obstruksi biasanya terjadi pada ductus silvius di antara ventrikel ke III dan IV yang diakibatkan perkembangan yang salah, infeksi atau tumor sehingga CSF tidak dapat bersirkulasi dari sistim ventrikuler ke sirkulasi subarahcnoid dimana secara normal akan diserap ke dalam pembuluh darah sehingga menyebabkan ventrikel lateral dan ke III membesar dan terjadi kenaikan ICP.
Type lain dari hidrocephalus disebut : Communcating (Eksternal Hidrocephalus) dmana sirkulasi cairan dari sistim ventrikuler ke ruang subarahcnoid tidak terhalangi, ini mungkin disebabkan karena kesalahan absorbsi cairan oleh sirkulasi vena. Type hidrocephalus terlihat bersama – sama dengan malformasi cerebrospinal sebelumnya.

V. Tanda dan Gejala
Kepala bisa berukuran normal dengan fontanela anterior menonjol, lama kelamaan menjadi besar dan mengeras menjadi bentuk yang karakteristik oleh peningkatan dimensi ventrikel lateral dan anterior – posterior diatas proporsi ukuran wajah dan bandan bayi.
Puncak orbital tertekan kebawah dan mata terletak agak kebawah dan keluar dengan penonjolan putih mata yang tidak biasanya.
Tampak adanya dsitensi vena superfisialis dan kulit kepala menjadi tipis serta rapuh.
Uji radiologis : terlihat tengkorak mengalami penipisan dengan sutura yang terpisah – pisah dan pelebaran vontanela.
Ventirkulogram menunjukkan pembesaran pada sistim ventrikel . CT scan dapat menggambarkan sistim ventrikuler dengan penebalan jaringan dan adnya massa pada ruangan Occuptional.
Pada bayi terlihat lemah dan diam tanpa aktivitas normal. Proses ini pada tipe communicating dapat tertahan secara spontan atau dapat terus dengan menyebabkan atrofi optik, spasme ekstremitas, konvulsi, malnutrisi dan kematian, jika anak hidup maka akan terjadi retardasi mental dan fisik.

VI. Diagnosis
- CT Scan
- Sistenogram radioisotop dengan scan .

VII. TINDAKAN
- Prosedur pembedahan jalan pintas (ventrikulojugular, ventrikuloperitoneal) shunt
- Kedua prosedur diatas membutuhkan katheter yang dimasukan kedalam ventrikel lateral : kemudian catheter tersebut dimasukan kedalasm ujung terminal tube pada vena jugular atau peritonium diaman akan terjadi absorbsi kelebihan CSF.

VIII. Penatalaksanaan Perawatan Khusus
Hal – hal yang harus dilakukan dalam rangka penatalaksanaan post – operatif dan penilaian neurologis adalah sebagai berikut :
1) Post – Operatif : Jangan menempatkan klien pada posisi operasi.
2) Pada beberapa pemintasan, harus diingat bahwa terdapat katup (biasanya terletak pada tulang mastoid) di mana dokter dapat memintanya di pompa.
3) Jaga teknik aseptik yang ketat pada balutan.
4) Amati adanya kebocoran disekeliling balutan.
5) Jika status neurologi klien tidak memperlihatkan kemajuan, patut diduga adanya adanya kegagalan operasi (malfungsi karena kateter penuh);gejala dan tanda yang teramati dapat berupa peningkatan ICP.
Hidrocephalus pada Anak atau Bayi
Pembagian :
Hidrosephalus pada anak atau bayi pada dasarnya dapat di bagi dua (2 ) ;
1. Kongenital
Merupakan Hidrosephalus yang sudah diderita sejak bayi dilahirkan, sehingga ;
- Pada saat lahir keadaan otak bayi terbentuk kecil
- Terdesak oleh banyaknya cairan didalam kepala dan tingginya tekanan intrakranial sehingga pertumbuhan sel otak terganggu.
2. Di dapat
Bayi atau anak mengalaminya pada saat sudah besar, dengan penyebabnya adalah penyakit – penyakit tertentu misalnya trauma, TBC yang menyerang otak dimana pengobatannya tidak tuntas.
Pada hidrosefalus di dapat pertumbuhan otak sudah sempurna, tetapi kemudian terganggu oleh sebab adanya peninggian tekanan intrakranial.Sehingga perbedaan hidrosefalus kongenital denga di dapat terletak pada pembentukan otak dan pembentukan otak dan kemungkinan prognosanya..
Penyebab sumbatan ;



Penyebab sumbatan aliran CSF yang sering terdapat pada bayi dan anak – anak ;
1. Kelainan kongenital
2. Infeksi di sebabkan oleh perlengketan meningen akibat infeksi dapat terjadi pelebaran ventrikel pada masa akut ( misal ; Meningitis )
3. Neoplasma
4. Perdarahan , misalnya perdarahan otak sebelum atau sesudah lahir.
Berdasarkan letak obstruksi CSF hidrosefalus pada bayi dan anak ini juga terbagi dalam dua bagianyaitu :
1. Hidrosefalus komunikan
Apabila obstruksinya terdapat pada rongga subaracnoid, sehingga terdapat aliran bebas CSF dal;am sistem ventrikel sampai ke tempat sumbatan.
2. Hidrosefalus non komunikan
Apabila obstruksinya terdapat terdapat didalam sistem ventrikel sehingga menghambat aliran bebas dari CSF.
Biasanya gangguan yang terjadi pada hidrosefalus kongenital adalah pada sistem vertikal sehingga terjadi bentuk hidrosefalus non komunikan.
Manifestasi klinis
1. Bayi ;
- Kepala menjadi makin besar dan akan terlihat pada umur 3 tahun.
- Keterlambatan penutupan fontanela anterior, sehingga fontanela menjadi tegang, keras, sedikit tinggi dari permukaan tengkorak.
- Tanda – tanda peningkatan tekanan intrakranial;
• Muntah
• Gelisah
• Menangis dengan suara ringgi
• Peningkatan sistole pada tekanan darah, penurunan nadi, peningkatan pernafasan dan tidak teratur, perubahan pupil, lethargi – stupor.
- Peningkatan tonus otot ekstrimitas
- Tanda – tanda fisik lainnya ;
• Dahi menonjol bersinar atau mengkilat dan pembuluh – pembuluh darah terlihat jelas.
• Alis mata dan bulu mata ke atas, sehingga sclera telihat seolah – olah di atas iris.
• Bayi tidak dapat melihat ke atas, “sunset eyes”
• Strabismus, nystagmus, atropi optik.
• Bayi sulit mengangkat dan menahan kepalanya ke atas.
2. Anak yang telah menutup suturanya ;
Tanda – tanda peningkatan tekanan intrakranial :
- Nyeri kepala
- Muntah
- Lethargi, lelah, apatis, perubahan personalitas
- Ketegangan dari sutura cranial dapat terlihat pada anak berumur 10 tahun.
- Penglihatan ganda, kontruksi penglihatan perifer
- Strabismus
- Perubahan pupil.

1. PENGKAJIAN
1.1 Anamnese
1) Riwayat penyakit / keluhan utama
Muntah, gelisah nyeri kepala, lethargi, lelah apatis, penglihatan ganda, perubahan pupil, kontriksi penglihatan perifer.
2) Riwayat Perkembangan
Kelahiran : prematur. Lahir dengan pertolongan, pada waktu lahir menangis keras atau tidak.
Kekejangan : Mulut dan perubahan tingkah laku.
Apakah pernah terjatuh dengan kepala terbentur.
Keluhan sakit perut.

1.2 Pemeriksaan Fisik
1) Inspeksi :
 -Anak dapat melioha keatas atau tidak.
 -Pembesaran kepala.
 -Dahi menonjol dan mengkilat. Sertas pembuluh dara terlihat jelas.
2) Palpasi
 -Ukur lingkar kepala : Kepala semakin membesar.
 - Fontanela : Keterlamabatan penutupan fontanela anterior sehingga fontanela tegang, keras dan sedikit tinggi dari permukaan tengkorak.
3) Pemeriksaan Mata
- Akomodasi.
- Gerakan bola mata.
-Luas lapang pandang
 -Konvergensi.
 -Didapatkan hasil : alis mata dan bulu mata keatas, tidak bisa melihat keatas.
 -Stabismus, nystaqmus, atropi optic.

1.3 Observasi Tanda –tanda vital
Didapatkan data – data sebagai berikut :
 -Peningkatan sistole tekanan darah.
 -Penurunan nadi / Bradicardia.
 -Peningkatan frekwensi pernapasan.

1.4 Diagnosa Klinis :
 -Transimulasi kepala bayi yang akan menunjukkan tahap dan lokalisasi dari pengumpulan cairan banormal. ( Transsimulasi terang )
 -Perkusi tengkorak kepala bayi akan menghasilkan bunyi “ Crakedpot “ (Mercewen’s Sign)
 -Opthalmoscopy : Edema Pupil.
 -CT Scan Memperlihatkan (non – invasive) type hidrocephalus dengan nalisisi komputer.-
 -Radiologi : Ditemukan Pelebaran sutura, erosi tulang intra cranial.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
2.1 Pre Operatif
1) Gangguan rasa nyaman: Nyeri sehubungan dengan meningkatkanya tekanan intrakranial .
Data Indikasi : Adanya keluahan Nyeri Kepala, Meringis atau menangis, gelisah, kepala membesar
Tujuan ; Klien akan mendapatkan kenyamanan, nyeri kepala berkurang
Intervensi :
 -Jelaskan Penyebab nyeri.
 -Atur posisi Klien
 -Ajarkan tekhnik relaksasi
 -Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian Analgesik
 -Persapiapan operasi

2) Kecemasan Orang tua sehubungan dengan keadaan anak yang akan mengalami operasi.
Data Indikasi : Ekspresi verbal menunjukkan kecemasan akan keadaan anaknya.
Tujuan : Kecemasan orang tua berkurang atau dapat diatasi
.
Intervensi :
 -Dorong orang tua untuk berpartisipasi sebanyak mungkin dalam merawat anaknya.
- Jelaskan pada orang tua tentang masalah anak terutama ketakutannya menghadapi operasi otak dan ketakutan terhadap kerusakan otak.
- Berikan informasi yang cukup tentang prosedur operasi dan berikan jawaban dengan benar dan sejujurnya serta hindari kesalahpahaman.

3) Potensial Kekurangan cairan dan elektrolit sehubungan dengan intake yang kurang diserta muntah.
Data Indikasi ; keluhan Muntah, Jarang minum.
Tujuan : Tidak terjadi kekurangan cairan dan elektrolit.
Intervensi :
- Kaji tanda – tanda kekurangan cairan
- Monitor Intake dan out put
 -Berikan therapi cairan secara intavena.
- Atur jadwal pemberian cairan dan tetesan infus.
- Monitor tanda – tanda vital.


2.2 Post – Operatif.
1) Gangguan rasa nyaman : Nyeri sehubungan dengan tekanan pada kulit yang dilakukan shunt.
Data Indikasi ; adanya keluhan nyeri, Ekspresi non verbal adanya nyeri.
Tujuan : Rasa Nyaman Klien akan terpenuhi, Nyeri berkurang
Intervensi :
 -Beri kapas secukupnya dibawa telinga yang dibalut.
- Aspirasi shunt (Posisi semi fowler), bila harus memompa shunt, maka pemompaan dilakukan perlahan – lahan dengan interval yang telah ditentukan.
- Kolaborasi dengan tim medis bila ada kesulitan dalam pemompaan shunt.
 -Berikan posisi yang nyama. Hindari posisi p[ada tempat dilakukan shunt.
 -Observasi tingkat kesadaran dengan memperhatikan perubahan muka (Pucat, dingin, berkeringat)
- Kaji orisinil nyeri : Lokasi dan radiasinya

2) Resiko tinggi terjadinya gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan intake yang tidak adekuat.
Data Indikasi ; Adanya keluhan kesulitan dalam mengkonsumsi makanan.
Tujuan : Tidak terjadi gangguan nutrisil.
Intervensi :
- Berikan makanan lunak tinggi kalori tinggi protein.
 -Berikan klien makan dengan posisi semi fowler dan berikan waktu yang cukup untuk menelan.
 -Ciptakan suasana lingkungan yang nyaman dan terhindar dari bau – bauan yang tidak enak.
 -Monitor therapi secara intravena.
 -Timbang berta badan bila mungkin.
 -Jagalah kebersihan mulut ( Oral hygiene)
 -Berikan makanan ringan diantara waktu makan



3) Resiko tinggi terjadinya infeksi sehubungan dengan infiltrasi bakteri melalui shunt.
Tujuan : Tidak terjadi infeksi / Klien bebas dari infeksi.
Intervensi :
 -Monitor terhadap tanda – tanda infeksi.
 -Pertahankan tekhnik kesterilan dalam prosedur perawatan
 -Cegah terhadap terjadi gangguan suhu tubuh.
 -Pertahanakan prinsiup aseptik pada drainase dan ekspirasi shunt.

4) Resiko tinggi terjadi kerusakan integritas kulit dan kontraktur sehubungan dengan imobilisasi.
Tujuan ; Pasien bebas dari kerusakan integritas kulit dan kontraktur.

Intervensi :
 -Mobilisasi klien (Miki dan Mika) setiap 2 jam.
 -Obsevasi terhadap tanda – tanda kerusakan integritas kulit dan kontrkatur.
 -Jagalah kebersihan dan kerapihan tempat tidur.
 -Berikan latihan secara pasif dan perlahan – lahan.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PSORIASIS



1. Definisi
Psoriasis ialah penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik dan residif, ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar, berlapis-lapis dan transparan; disertai fenomena tetesan lilin, Auspitz, dan Kobner. Psoriasis juga disebut psoriasis vulgaris berarti psoriasis yang biasa, karena ada psoriasis lain, misalnya psoriasis pustulosa.
2. Anatomi fisiologis
Pembagian kulit secara garis besar :
a. Epidermis
Lapisan kulit terluar. Sel-sel epidermis terus menerus mengalami mitosis dan diganti dengan yang baru sekitar 30 hari. Epidermis mengandung reseptor-resepror sensorik untuk sentuhan, suhu, getaran dan nyeri. Lapisan epidermis terdiri dari: stratum korneum, stratum lusidum, stratum granulosum, stratum spinosum dan stratum basale.
b. Dermis
Dermis terletak tepat di bawah epidermis. Jaringan ini dianggap jaringan ikat longgar dan terdiri dari sel-sel fibroblas yang mengeluarkan protein kolagen dan elastin. Lapisan dermis terdiri dari pars papelare dan pars retikulare.
c. Lapisan Subkutis
Lapisan subkutis di bawah dermis. Lapisan ini terdiri dari lemak dan jaringan ikat dan berfungsi sebagai peredam kejut dan insulamtor panas. Lapisan subkutis adalah tempat penyimpanan kalori
Faal kulit:
a. Fungsi proteksi
b. Fungsi absorpsi
c. Fungsi ekskresi
d. Fungsi persepsi
e. Fungsi pengaturan suhu tubuh
f. Fungsi pembentukan pigmen
g. Fungsi keratinisasi
h. Fungsi pembentukan vit. D
3. Etiologi
Etiologi belum diketahui, yang jelas ialah waktu pulih (turn over time) epidermis dipercepat menjadi 3-4 hari, sedangkan pada kulit normal lamanya 27 hari.Berbagai penyelidikan yang lebih mendalam untuk mengetahui penyebabnya yang pasti masih banyak dilakukan. Beberapa faktor penting yang disangka menjadi penyebab timbulnya Psoriasis adalah :
a. Genetik
b. Imunologik
c. Stres Psikik
d. Infeksi fokal. Umumnya infeksi disebabkan oleh Kuman Streptococcus
e. Faktor Endokrin. Puncak insidens pada waktu pubertas dan menopause, pada waktu kehamilan membaik tapi menjadi lebih buruk pada masa pascapartus.
f. Gangguan Metabolik, contohnya hipokalsemia dan dialisis.
g. Obat-obatan misalnya beta-adrenergic blocking agents, litium, antimalaria, dan penghentian mendadak korikosteroid sistemik.
h. Alkohol dan merokok.
4. Patofisiologi
Psoriasis merupakan penyakit kronik yang dapat terjadi pada setiap usia. Perjalanan alamiah penyakit ini sangat berfluktuasi. Pada psoriasis ditunjukan adanya penebalan epidermis dan stratum korneum dan pelebaran pembuluh-pembuluh darah dermis bagian atas. Jumlah sel-sel basal yang bermitosis jelas meningkat. Sel-sel yang membelah dengan cepat itu bergerak dengan cepat ke bagian permukaan epidermis yang menebal. Proliferasi dan migrasi sel-sel epidermis yang cepat ini menyebabkan epidermis menjadi tebal dan diliputi keratin yang tebal ( sisik yang berwarna seperti perak ). Peningkatan kecepatan mitosis sel-sel epidermis ini agaknya antara lain disebabkan oleh kadar nukleotida siklik yang abnormal , terutama adenosin monofosfat(AMP)siklik dan guanosin monofosfat (GMP) siklik. Prostaglandin dan poliamin juga abnormal pada penyakit ini. Peranan setiap kelainan tersebut dalam mempengaruhi plak psoriatik belum dapat dimengerti secara jelas.
5. Gejala Klinis
Penderita biasanya mengeluh adanya gatal ringan pada tempat-tempat predileksi, yakni pada kulit kepala, perbatasan daerah tersebut dengan muka, ekstremitas bagian ekstensor terutama siku serta lutut, dan daerah lumbosakral.
Kelainan kulit terdiri atas bercak-bercak eritema yang meninggi (plak) dengan skuama diatasnya. Eritema berbatas tegas dan merata. Skuama berlapis-lapis, kasar, dan berwarna putih seperti mika, serta transparan.
Pada psoriasis terdapat fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner. Fenomena tetesan lilin ialah skuama yang berubah warnanya menjadi putih pada goresan, seperti lilin digores. Pada fenomena Auspitz serum atau darah berbintik-bintik yang disebabkan karena papilomatosis. Trauma pada kulit , misalnya garukan , dapat menyebabkan kelainan yang sama dengan kelainan psoriasis dan disebut kobner.
Psoriasis juga dapat menyebabkan kelainan kuku yang agak khas yang disebut pitting nail atau nail pit berupa lekukan-lekukan miliar.
Bentuk Klinis :
1. Psoriasis Vulgaris
2. Psoriasis Gutata
3. Psoriasis Inversa ( Psoriasis Fleksural)
4. Psoriasis Eksudativa
5. Psoriasis Seboroik (Seboriasis)
6. Psoriasis Pustulosa ( Pustulosa Palmoplantar & Pustulosa Generalisata Akut)
7. Eritroderma Psoriatik
6. Diagnosis
Jika gambaran klinisnya khas, tidaklah sukar membuat diagnosis. Kalau tidak khas, maka harus dibedakan dengan beberapa penyakit lain yang tergolong dermatitis eritroskuamosa. Pada diagnosis banding hendaknya perlu diingat , bahwa pada psoriasis terdapat tanda-tanda yang khas, yakni skuama kasar, transparan serta berlapis-lapis , fenomena tetesan lilin,dan fenomena auspitz serta kobner.
Diagnostik banding :
a. Dermatofitosis dengan keluhan gatal sekali dan ditemukan ada jamur.
b. Sifilis Psoriasiformis (sifilis stadium II)
c. Dermatitis seboroik.
7. Penatalaksanaan Medik
Sampai saat ini belum ditemukan pengobatan yang spesifik karena penyebabnya belum jelas dan banyak faktor yang berpengaruh. Psoriasis sebaiknya diobati secara topikal. Jika hasilnya tidak memuaskan, baru dipertimbangkan pengobatan sistemik karena efek samping pengobatan sistemik lebih banyak.
Pengobatan Sistemik
1. Kortikosteroid ( Prednison )
2. Obat sitostatik ( Metroteksat )
3. Levodopa
4. DDS(diaminodifenilsulfon)
5. Etretinat dan Asitretein
6. Siklosporin
Pengobatan Topikal
1. Preparat Ter ( fosil, kayu, batubara )
2. Kortikosteroid ( senyawa fluor )
3. Ditranol ( antralin )
4. Pengobatan dengan peyinaran
5. Calcipotrio
B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian 11 Pola Gordon:
a. Pola Persepsi Kesehatan
- Adanya riwayat infeksi sebelumya.
- Pengobatan sebelumnya tidak berhasil.
- Riwayat mengonsumsi obat-obatan tertentu, mis., vitamin; jamu.
- Adakah konsultasi rutin ke Dokter.
- Hygiene personal yang kurang.
- Lingkungan yang kurang sehat, tinggal berdesak-desakan.
b. Pola Nutrisi Metabolik
- Pola makan sehari-hari: jumlah makanan, waktu makan, berapa kali sehari makan.
- Kebiasaan mengonsumsi makanan tertentu: berminyak, pedas.
- Jenis makanan yang disukai.
- Napsu makan menurun.
- Muntah-muntah.
- Penurunan berat badan.
- Turgor kulit buruk, kering, bersisik, pecah-pecah, benjolan.
- Perubahan warna kulit, terdapat bercak-bercak, gatal-gatal, rasa terbakar atau perih.
c. Pola Eliminasi
- Sering berkeringat.
- Tanyakan pola berkemih dan bowel.
d. Pola Aktivitas dan Latihan
- Pemenuhan sehari-hari terganggu.
- Kelemahan umum, malaise.
- Toleransi terhadap aktivitas rendah.
- Mudah berkeringat saat melakukan aktivitas ringan.
- Perubahan pola napas saat melakukan aktivitas.
e. Pola Tidur dan Istirahat
- Kesulitan tidur pada malam hari karena stres.
- Mimpi buruk.
f. Pola Persepsi Kognitif
- Perubahan dalam konsentrasi dan daya ingat.
- Pengetahuan akan penyakitnya.
g. Pola Persepsi dan Konsep Diri
- Perasaan tidak percaya diri atau minder.
- Perasaan terisolasi.
h. Pola Hubungan dengan Sesama
- Hidup sendiri atau berkeluarga
- Frekuensi interaksi berkurang
- Perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran
i. Pola Reproduksi Seksualitas
- Gangguan pemenuhan kebutuhan biologis dengan pasangan.
- Penggunaan obat KB mempengaruhi hormon.
j. Pola Mekanisme Koping dan Toleransi Terhadap Stress
- Emosi tidak stabil
- Ansietas, takut akan penyakitnya
- Disorientasi, gelisah
k. Pola Sistem Kepercayaan
- Perubahan dalam diri klien dalam melakukan ibadah
- Agama yang dianut
2. Diagnosa dan Rencana Keperawatan
DP1 Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan inflamasi antara dermal-epidermal sekunder akibat psoriasis
Tujuan : Kerusakan integritas kulit dapat teratasi dalam 3 x 24 jam.
Kriteria Hasil :
1. Area terbebas dari infeksi lanjut.
2. Kulit bersih, kering, dan lembab
Intervensi :
1. Kaji keadaan kulit
R/ : Mengetahui dan mengidetifikasi kerusakan kulit untuk melakukan intervensi yang tepat.
2. Kaji keadaan umum dan observasi TTV.
R/ : Mengetahui perubahan status kesehatan pasien.
3. Kaji perubahan warna kulit.
R/ : Megetahui keefektifan sirkulasi dan mengidentifikasi terjadinya komplikasi.
4. Pertahankan agar daerah yang terinfeksi tetap bersih dan kering.
R/ : Membantu mempercepat proses penyembuhan.
5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat-obatan.
R/ : Untuk mempercepat penyembuhan.
DP2 Ketakutan berhubungan dengan perubahan penampilan
Tujuan : Ketakutan teratasi setelah 3 x 24 jam.
Kriteria Hasil :
1. Klien menyatakan peningkatan kenyamanan psikologis dan fisiologis.
2. Dapat menjelaskan pola koping yang efektif dan tidak efektif.
3. Mengidentifikasi respons kopingnya sendiri.
Intervensi :
1. Kaji ulang perubahan biologis dan fisiologis.
R/ : Reaksi fisik kronis terhadap stresor-stresor menunjukkan adanya penyakit kronis dan ketahanan rendah.
2. Gunakan sentuhan sebagai toleransi.
R/ : Kadang-kadang dengan memegang secara hangat akan menolongnya mempertahankan kontrol.
3. Dukung jenis koping yang disukai ketika mekanisme adaftif digunakan.
R/ : Marah merupakan respon yang adaptif yang menyertai rasa takut.
4. Anjurkan untuk mengekspresikan perasaannya.
R/ : Dapat mengurangi stres pada pasien.
5. Anjurkan untuk menggunakan mekanisme koping yang normal.
R/ : Ketepatan dalam menggunakan koping merupakan salah satu cara mengurangi ketakutan.
6. Anjurkan klien untuk mencari stresor dan menghadapi rasa takutnya.
R/ : Kesadaran akan faktor penyebabkan ketakutan akan memperkuat kontrol dan mencegah perasaan takut yang makin memuncak.
DP3 : Ansietas yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan sekunder akibat penyakit psoriasis
Tujuan : Ansietas dapat diminimalkan sampai dengan diatasi setelah 3 x 24 jam
Kriteria Hasil :
1. Pasien tampak rileks
2. Pasien mendemonstrasikan/menunjukan kemampuan mengatasi masalah dan menggunakan sumber-sumber secara efektif
3. Tanda-tanda vital normal
4. Pasien melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi
Intervensi :
1. Kaji tingkat ansietas dan diskusikan penyebab bila mungkin
R/ : Identifikasi masalah spesifik akan meningkatkan kemampuan individu untuk menghadapinya dengan lebih realistis
2. Kaji ulang keadaan umum pasien dan TTV
R/ : Sebagai indikator awal dalam menentukan intervensi berikutnya
3. Berikan waktu pasien untuk mengungkapkan masalahnya dan dorongan ekspresi yang bebas, misalnya rasa marah, takut, ragu
R/ : Agar pasien merasa diterima
4. Jelaskan semua prosedur dan pengobatan
R/ : Ketidaktahuan dan kurangnya pemahaman dapat menyebabkan timbulnya ansietas
5. Diskusikan perilaku koping alternatif dan tehnik pemecahan masalah
R/ : Mengurangi kecemasan pasien
DP4 Gangguan konsep diri berhubungan dengan krisis kepercayaan diri
Tujuan : Gangguan konsep diri teratasi dalam 3 x 24 jam
Kriteria Hasil :
1. Dapat berinteraksi seperti biasa.
2. Rasa percaya diri timbul kembali.
Intervensi :
1. Kaji perubahan perilaku pasien seperti menutup diri, malu berhadapan dengan orang lain.
R/ : Mengetahui tingkat ketidakpercayaan diri pasien dalam menentukan intervensi selanjutnya.
2. Bersikap realistis dan positif selama pengobatan, pada penyuluhan pasien.
R/ : Meningkatkan kepercayaan dan mengadakan hubungan antara perawat-pasien.
3. Beri harapan dalam parameter situasi individu.
R/ : Meningkatkan perilaku positif
4. Berikan penguatan positif terhadap kemajuan.
R/ : Kata-kata penguatan dapat mendukung terjadinya perilaku koping positif.
5. Dorong interaksi keluarga.
R/ : Mempertahankan garis komunikasi dan memberikan dukungan terus-menerus pada pasien.
DP5 Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi.
Tujuan : Pengetahuan pasien bertambah
Kriteria Hasil :
1. Pasien menunjukkan pemahaman akan penyakitnya.
2. Pasien menunjukkan perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.
Intervensi :
1. Kaji ulang pengobatan.
R/ : Pengulangan memungkinkan kesempatan untuk bertanya dan meyakinkan pemahaman yang akurat.
2. Ajar tanda dan gejala serta kemungkinan yang dapat menimbulkan inflamasi.
R/ : Agar pasien memahami dan mencegah faktor resiko inflamasi serta dapat mengantisipasi secara dini kelanjutan keadaan tersebut.
3. Diskusikan jadwal pengobatan.
R/ : Agar pasien dapat menentukan waktu yang tepat untuk terapi sehingga memahami fungsi terapi yang diikuti.
4. Diskusikan tentang peningkatan jadwal kunjungan ke Dokter.
R/ : Agar pasien lebih mengerti akan kondisinya
Daftar Pustaka
Ajunadi, Purnawan dkk. 1982. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius: Jakarta.
Carpenito, Lynda Juall. 1998. Diagnosa Keperawatan. EGC: Jakarta.
Djuanda, Adhi. 1993. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Fakultas Kedokteran UI: Jakarta.
Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC: Jakarta.

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN




            A. Latar Belakang
            Tn.DM didiagnosa menderita penyakit ASMA semenjak 4 tahun yang lalu, dan     mengikuti terapi pengobatan seperti yang dianjurkan puskesmas. Tn.DM dan keluarga          nya sendiri tidak mengetahui tentang penyakit Tn.DM, mereka hanya tau penyakit itu        namanya asma. Mereka tidak mengetahui apa faktor penyebabnya dan bagaiamana cara     penanganan serta pengontrolannya.
            Sehubungan dengan masalah di atas, untuk mengatasinya Tn.DM dan keluarganya            memerlukan pendidikan kesehatan berupa penyuluhan tentang Asma yang meliputi ;      pengertian, penyebab, tanda dan gejala dan sebagainya.
            B. Tujuan Umum
            Setelah dilakukan tindakan pendidikan kesehatan selama 45 menit diharapkan keluarga     bisa mengerti mengenai hal-hal yang berkaitan dengan penyakit asma yang diderita          Tn.DM dan bagaimana penanganan dan pengontrolannya.
            C. Tujuan Khusus
            Setelah dilakukan tindakan pendidikan kesehatan selama 45 menit diharapkan :
            1. Keluarga mampu menyebutkan secara sederhana pengertian Asma
            2. Keluarga mampu menyebutkan minimal 3 dari 5 penyebab datangnya Asma
            3. Keluarga mampu menyebutkan minimal 3 dari 6 tanda dan gejala Asma
            4. Keluarga mampu menyebutkan minimal 2 dari 3 penanganan yang diberikan pada          keluarga yang sedang terkena Asma
            5. Keluarga dapat menyebutkan minimal 2 dari 4cara memodifikasi lingkungan untuk        mencegah terjadinya asma pada anggota keluarga.
            D. Sasaran / Target
            Sasaran / target dari pendidikan kesehatan ini adalah Tn.DM dan keluarganya yang           beralamat di tumpaan baru jaga II
            E. Metode
            1. Ceramah ( Penyampaian materi )
            2. Tanya Jawab
            F. Media
            1. Leaflat
            2. Lembar Balik
            G. Waktu Penyuluhan Dilaksanakan
            Hari / Tanggal : Sabtu / 1 Maret 2008
            Waktu : Pukul 14.00 - 14.45 (s/d selesai)
            Tempat : Dirumah Keluarga Tn.DM
            H. Strategi Pelaksanaan
            1. Preinteraksi ( 5 menit )
            - Memberi salam
            - Memperkenalkan diri kembali dan mengingatkan keluarga pada kontrak yang telah          dibuat sebelumnya
            2. Interaksi ( 35 menit )
            - Penyampaian Materi
            - Tanya Jawab
            3. Terminasi ( 5 menit )
            - Menyimpulkan dan mengevaluasi hal-hal yang telah disampaikan dan didiskusikan          bersama
            - Memberi salam



           
MATERI
            A. Pengertian
            Asma adalah penyempitan pada saluran pernapasan sehingga menimbulkan kesulitan         dalam bernafas.
            B. Penyebab
            1. Hiper-reaktif jalan napas.
            2. Alergen
            3. Status Emosi
            4. Kelelahan
            5. Perubahan Udara
            C. Tanda Dan Gejala
            1. Batuk
            2. Mengi
            3. Pernapasan pendek
            4. Rasa sesak di dada
            5. Tidak dapat bicara dengan kalimat yang lengkap
            6. Penggunaan otot-otot bantu pernapasan.
            D. Tindakan Mandiri Jika Asma Kambuh
            1. Berikan posisi setengah du duk (menyandar)
            2. Atur posisi kepala de ngan posisi menegok ke atas (ekstensi)
            3. Berikan ruang untuk me ngambil udara (jangan di kerumuni)
            E. Lingkungan Rumah Yang Diperlukan
            1. Selalu membersihkan rumah untuk menghindari debu
            2. Tidak memelihara binatang yang berbulu di dalam rumah
            3. Mencegah polusi udara
            4. Mempertahankan aliran udara didalam rumah atau kamar dengan jendela dan ventilasi   yang cukup dan terbuka.
            F. Kiat-Kiat Dalam Mengontrol Asma
            1. Kenali asma anda (jenis yang mana, ringan, dll)
            2. Kenali pencetusnya, jika emosi maka atasi emosi, jika virus influenza maka perlu            divaksinasi, jika makanan maka hindari makanan tersebut, jika debu rumah maka hindari      debu rumah.
            3. Kenali obat-obatan yang dipakai secara benar. Pakai obat yang disuruh dokter secara     benar. Pastikan obat benar dan dosis benar.
            4. Kontrol ke dokter jangan hanya lagi sesak, seperti servis mobil ja ngan tunggu rusak      baru ke bengkel, lakukan perawatan terhadap badan sendiri.
            5. Siapkan obat emergency untuk serangan di tengah malam.

BAB III

            PENUTUP
            A. Kesimpulan
            Asma adalah penyempitan pada saluran pernapasan sehingga menimbulkan kesulitan         dalam bernafas. Penyakit ini merupakan salah satu dari gangguan sistm pernapasan yang      ada. Penyakit ini disebabkan oleh ; hiper-reaktif dari jalan napas, alergen, status emosi,            kelelahan dan perubahan suhu udara. Sedangkan tanda dan gejalanya adalah batuk,           mengi, napas pendek, sesak, dan sebagainya.
            Tn.DM adalah salah satu penderita Asma oleh karena itu sangat tepat jika diberikan           asuhan keperawatan pada Tn.DM dan keluarganya, mengingat pentingnya peran keluarga             dalam proses pengontrolan penyakitnya.
            Selama melakukan asuhan keperawatan terbina hubungan rasa saling percaya antara           perawat / penulis dengan pihak keluarga, yang dalam prosesnya setelah melalui          pengkajian didapatkan 2 masalah keperawatan yang dapat diambil.Yaitu ; Resiko     penyakit berulang ; inefektif pengobatan asma pada keluarga Tn.DM Khusus nya pada          Tn.DM berhubungan dengan ketidakmam puan keluarga mengenal dan menangani            masalah dan Resiko terjadinya gannguan kesehatan berhubungan dengan ketidakmam         puan keluarga dalam memodifikasi lingkungan.
            Untuk masalah ini perawat / penulis melakukan penyuluhan kesehatan kepada pihak          keluarga mengenai penyakit asma dan hal-hal yang terkait didalamnya.
            B. Saran
            Berdasarkan kesimpulan diatas maka penulis mencoba mengemukakan saran untuk            menjadi pertimbangan dan untuk meningkatkan kualitas dalam pemberian asuhan    keperawatan. Adapun saran tersebut adalah :
            1. Dalam melakukan pengkajian hendaknya dilakukan secara komprhensif sehingga           masalah kperawatan yang terjadi dapat di ketahui dan ditangani segera.
            2. Bagi klien dan keluarga hendaklah menigkatkan kesadaran dalam hal menjaga    kesehatan sehingga tidak mudah terjadi masalah kesehatan. Dan masalah kesehatan yang       sudah terjadi bisa dikontrol sehingga tidak timbul kembali.

Askep Appendisitis



Pengertian
Appendiks adalah organ tambahan kecil yang menyerupai jari, melekat pada sekum tepat dibawah katup ileocecal ( Brunner dan Sudarth, 2002 hal 1097 ).
Appendicitis adalah peradangan dari appendiks vermiformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. (Arif Mansjoer ddk 2000 hal 307 ).
Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001).
Etiologi
Terjadinya apendisitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri. Namun terdapat banyak sekali faktor pencetus terjadinya penyakit ini. Diantaranya obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks. Obstruksi pada lumen apendiks ini biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras ( fekalit), hipeplasia jaringan limfoid, penyakit cacing, parasit, benda asing dalam tubuh, cancer primer dan striktur. Namun yang paling sering menyebabkan obstruksi lumen apendiks adalah fekalit dan hiperplasia jaringan limfoid. (Irga, 2007)
Klasifikasi
Klasifikasi apendisitis terbagi atas 2 yakni :
  1. Apendisitis akut, dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau segmentalis, yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal.
Appendisitis purulenta difusi, yaitu sudah bertumpuk nanah.
  1. Apendisitis kronis, dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial, setelah sembuh akan timbul striktur lokal.
Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring, biasanya ditemukan pada usia tua.
Manifestasi Klinik
• Nyeri kuadran kanan bawah dan biasanya demam ringan
• Mual, muntah
• Anoreksia, malaise
• Nyeri tekan lokal pada titik Mc. Burney
• Spasme otot
• Konstipasi, diare
(Brunner & Suddart, 1997)
KOMPLIKASI
  • Komplikasi utama adalah perforasi appediks yang dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses apendiks
  • Tromboflebitis supuratif
  • Abses subfrenikus
  • Obstruksi intestinal
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
  • Sel darah putih : lekositosis diatas 12000/mm3, netrofil meningkat sampai 75%
  • Urinalisis : normal, tetapi eritrosit/leukosit mungkin ada
  • Foto abdomen: Adanya pergeseran material pada appendiks (fekalis) ileus terlokalisir
  • Tanda rovsing (+) : dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa dikuadran kanan bawah
  • Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi.
  • Pemeriksaan laboratorium Leukosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang.
  • Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi lekositosis yang lebih tinggi lagi. Hb (hemoglobin) nampak normal. Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat. Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal. Pemeriksaan radiologi Pada foto tidak dapat menolong untuk menegakkan diagnosa apendisitis akut, kecuali bila terjadi peritonitis, tapi kadang kala dapat ditemukan gambaran sebagai berikut: Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara dan cairan. Kadang ada fecolit (sumbatan). Pada keadaan perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma
(Doenges, 1993; Brunner & Suddart, 1997)
PENATALAKSANAAN
  • Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah ditegakkan
  • Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai pembedahan dilakukan
  • Analgetik diberikan setelah diagnosa ditegakkan
  • Apendektomi dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi.
  • Apendektomi dapat dilakukan dibawah anastesi umum atau spinal dengan insisi abdomen bawah atau dengan laparoskopi, yang merupakan metode terbaru yang sangat efektif. Konsep Asuhan Keperawatan Sebelum operasi dilakukan klien perlu dipersiapkan secara fisik maupun psikis, disamping itu juga klien perlu diberikan pengetahuan tentang peristiwa yang akan dialami setelah dioperasi dan diberikan latihan-latihan fisik (pernafasan dalam, gerakan kaki dan duduk) untuk digunakan dalam periode post operatif. Hal ini penting oleh karena banyak klien merasa cemas atau khawatir bila akan dioperasi dan juga terhadap penerimaan anastesi.

(Brunner & Suddart, 1997)
ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian
A. Anamnesa
  1. Data demografi.
Nama, Umur : sering terjadi pada usia tertentu dengan range 20-30 tahun, Jenis kelamin, Status perkawinan, Agama, Suku/bangsa, Pendidikan, Pekerjaan, Pendapatan, Alamat, Nomor register.
  1. Keluhan utama.
Klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah. Timbul keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu. Nyeri dirasakan terus-menerus. Keluhan yang menyertai antara lain rasa mual dan muntah, panas.
  1. Riwayat penyakit sekarang
Keluhan yang dirasakan oleh pasien mulai pertama / saat dirumah sampai MRS / opname.
  1. Riwayat penyakit dahulu.
Biasanya berhubungan dengan masalah kesehatan klien sekarang.
B. Pemeriksaan Fisik.
  • B1 (Breathing) : Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan. Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal.
  • B2 (Blood) : Sirkulasi : Klien mungkin takikardia.
  • B3 (Brain) : Ada perasaan takut. Penampilan yang tidak tenang. Data psikologis Klien nampak gelisah.
  • B4 (Bladder) : -
  • B5 (Bowel) : Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus. Nyeri/kenyamanan nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney. Berat badan sebagai indikator untuk menentukan pemberian obat. Aktivitas/istirahat : Malaise. Eliminasi Konstipasi pada awitan awal dan kadang-kadang terjadi diare
  • B6 (Bone) : Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak.
C.  Diagnosa keperawatan
  1. Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal oleh inflamasi.
  2. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh.
  3. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun.
  4. Intoleransi Aktifitas berhubungan dengan keadaan nyeri yang mengakibatkan terjadinya penurunan pergerakan akibat nyeri akut.
  5. Resiko berkurangnya volume cairan berhubungan dengan adanya mual dan muntah.
  6. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan
  7. Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d kurang informasi.
D.  Intervensi dan Rasional
  1. Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal oleh inflamasi.
Tujuan:      setelah dilakukan askep selama 1 x 24 jam dirassakan pasien melaporkan rasa nyeri berkurang atau hilang dengan Kriteria hasil : Pasien tampak rileks mampu tidur/ istirahat dengan tepat.
Intervensi dan rasional
  1. Jelaskan pada pasien tentang penyebab nyeri
Rasional : informasi yang tepat dapat menurunkan tingkat kecemasan pasien dan menambah pengetahuan pasien tentang nyeri.
  1. Kaji tingkat nyeri, lokasi dan karasteristik nyeri.
Rasional : Untuk mengetahui sejauh mana tingkat nyeri dan merupakan indiaktor secara dini untuk dapat memberikan tindakan selanjutnya.
  1. Ajarkan tehnik untuk pernafasan diafragmatik lambat / napas dalam
Rasional : napas dalam dapat menghirup O2 secara adequate sehingga otot-otot menjadi relaksasi sehingga dapat mengurangi rasa nyeri.
  1. Berikan aktivitas hiburan (ngobrol dengan anggota keluarga)
Rasional : meningkatkan relaksasi dan dapat meningkatkan kemampuan kooping.
  1. Berikan kompres dingin pada abdomen
Rasional : Menghilangkan dan mengurangi nyeri melalui penghilangan rasa ujung saraf.
  1. Observasi tanda-tanda vital
Rasional : deteksi dini terhadap perkembangan kesehatan pasien.
  1. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgetik
Rasional : sebagai profilaksis untuk dapat menghilangkan rasa nyeri.
  1. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh.
Tujuan : setelah dilakukan askep selama 2 x 24 jam diharapkan tidak terjadi infeksi dengan criteria hasil : bebas tanda infeksi atau inflamasi, ttv dalam rentang normal
Intervensi dan Rasional
  1. Jelaskan pada pasien tentang proses terjadinya infeksi dan tanda-tanda terjadinya infeksi.
Rasional : dengan pemahaman klien, maka klien dapat bekerja sama dalam pelaksanaan tindakan.
  1. Bersihkan lapangan operasi dari beberapa organisme yang mungkin ada melalui prinsip-prinsip pencukuran.
Rasional : Pengukuran dengan arah yang berlawanan tumbuhnya rambut akan mencapai ke dasar rambut, sehingga benar-benar bersih dapat terhindar dari pertumbuhan mikro organisme.
  1. Beri obat pencahar sehari sebelum operasi
Rasional : Obat pencahar dapat merangsang peristaltic usus sehingga BAB dapat lancar.
  1. Observasi tanda-tanda vital terhadap peningkatan suhu tubuh, nadi, adanya pernapasan cepat dan dangkal.
Rasional : deteksi dini terhadap perkembangan kondisi pasien dan adanya tanda-tanda infeksi.
  1. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antibiotik
Rasional : Dugaan adanya infeksi/terjadinya sepsis, abses, peritonitis dan Menurunkan resiko penyebaran bakteri.
  1. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun, mual dan muntah.
Tujuan : setelah dilakukan askep selama 3 x 24 jam diharapkan pasien dapat mempertahankan BB normal atau tetap dengan kriteria hasil : nafsu makan meningkat, pasien bisa menghabiskan diit yang diberikan, BB konstan atau bertambah.
Intervensi dan Rasional
  1. Kaji sejauh mana ketidakadekuatan nutrisi klien
Rasional : menganalisa penyebab melaksanakan intervensi.
  1. Perkirakan / hitung pemasukan kalori, jaga komentar tentang nafsu makan sampai minimal
Rasional : Mengidentifikasi kekurangan / kebutuhan nutrisi berfokus pada masalah membuat suasana negatif dan mempengaruhi masukan.
  1. Timbang berat badan sesuai indikasi
Rasional : Mengawasi keefektifan secara diet.
  1. Beri makan sedikit tapi sering
Rasional : Tidak memberi rasa bosan dan pemasukan nutrisi dapat ditingkatkan.
  1. Anjurkan kebersihan oral sebelum makan
Rasional : Mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan
  1. Tawarkan minum saat makan bila toleran.
Rasional : Dapat mengurangi mual dan menghilangkan gas.
  1. Konsul tetang kesukaan/ketidaksukaan pasien yang menyebabkan distres.
    Rasional : Melibatkan pasien dalam perencanaan, memampukan pasien memiliki rasa kontrol dan mendorong untuk makan.
  2. Kolaborasi dengan tim gizi dalam memberi makanan yang bervariasi
Rasional : Makanan yang bervariasi dapat meningkatkan nafsu makan klien.
  1. Intoleransi Aktifitas berhubungan dengan keadaan nyeri yang mengakibatkan terjadinya penurunan pergerakan akibat nyeri akut.
  2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan tubuh b.d muntah, inflamasi peritoneum dengan cairan asing, muntah praoperasi, pembatasan pasca operasi
    Tujuan : setelah dilakukan askep selama 2 x24 jam diharapkan tidak terjadi kekurangan cairan dengan Kriteria hasil;Membran mukosa lembab, Turgor kulit baik, Haluaran urin adekuat: 1 cc/kg BB/jam, Tanda vital stabil
Intervensi:
  1. Awasi tekanan darah dan tanda vial
  2. Kaji turgor kulit, membran mukosa, capilary refill
  3. Monitor masukan dan haluaran . Catat warna urin/konsentrasi
  4. Auskultasi bising usus. Catat kelancara flatus
  5. Berikan perawatan mulut sering
  6. Berikan sejumlah kecil minuman jernih bila pemasukan peroral dimulai dan lanjutkan dengan diet sesuai toleransi
  7. Kolaborasi dengan tim medis dalam memberikan cairan IV dan Elektrolit.
  1. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan
Tujuan : setelah dilakukan askep selama 2 x 24 jam diharapkan klien dan keluarga mampu merawat diri sendiri
Intervensi dan Rasional
  1. Mandikan pasien setiap hari sampai klien mampu melaksanakan sendiri serta cuci rambut dan potong kuku klien.
Rasional : Agar badan menjadi segar, melancarkan peredaran darah dan meningkatkan kesehatan.
  1. Ganti pakaian yang kotor dengan yang bersih.
Rasional : Untuk melindungi klien dari kuman dan meningkatkan rasa nyaman
  1. Berikan HE pada klien dan keluarganya tentang pentingnya kebersihan diri.
Rasional : Agar klien dan keluarga dapat termotivasi untuk menjaga personal hygiene.
  1. Berikan pujian pada klien tentang kebersihannya.
Rasional : Agar klien merasa tersanjung dan lebih kooperatif dalam kebersihan
  1. Bimbing keluarga klien memandikan / menyeka pasien
Rasional : Agar keterampilan dapat diterapkan
  1. Bersihkan dan atur posisi serta tempat tidur klien.
Rasional : Klien merasa nyaman dengan tenun yang bersih serta mencegah terjadinya infeksi.
  1. Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d kurang informasi.
Tujuan : Setelah dilakukan askep selama 1 x 24 jam diharapkan pasien dapat mengerti tentang kondisi yang dihadapi saat ini dengan kriteria hasil : Menyatakan pemahamannya tentang proese penyakit, pengobatan, Berpartisipasi dalam program pengobatan, Klien akan memahami manfaat perawatan post operatif dan pengobatannya.
Intervensi dan Rasional
  1. Jelaskan pada klien tentang latihan-latihan yang akan digunakan setelah operasi.
    Rasional : Klien dapat memahami dan dapat merencanakan serta dapat melaksanakan setelah operasi, sehingga dapat mengembalikan fungsi-fungsi optimal alat-alat tubuh.
  2. Kaji ulang pembatasan aktivitas paska operasi
  3. Dorong aktivitas sesuai toleransi dengan periode istirahat periodik
  4. Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik, contoh peningkatan nyeri, edema/eritema luka, adanya drainase.
  5. Menganjurkan aktivitas yang progresif dan sabar menghadapi periode istirahat setelah operasi.
Rasional : Mencegah luka baring dan dapat mempercepat penyembuhan.
  1. Disukusikan kebersihan insisi yang meliputi pergantian verband, pembatasan mandi, dan penyembuhan latihan.
Rasional : Mengerti dan mau bekerja sama melalui teraupeutik dapat mempercepat proses penyembuhan.
Daftar Pustaka
Doenges, Marylinn E. (2000), Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta.
Henderson, M.A. (1992), Ilmu Bedah Perawat, Yayasan Mesentha Medica, Jakarta.
Mansjoer, A.  (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius FKUI
Price, SA. (2005). Patofisiologi Konsep  Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta : EGC
Price, SA, Wilson,LM. (1994). Patofisiologi Proses-Proses Penyakit, Buku Pertama. Edisi 4. Jakarta. EGC
Schwartz, Seymour, (2000), Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah, Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta.
Smeltzer, Suzanne C, (2001), Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah, Volume 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Smeltzer, Bare (1997). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner & suddart. Edisi 8. Volume 2. Jakarta, EGC


kumpulan askep