Sabtu, 20 November 2010

Basic Trauma Life Support For Nurse (BTLS For Nurse)


Apa dan untuk siapa pelatihan BTLS For Nurse itu ???
Pelatihan BTLS For Nurse adalah pelatihan yang ditujukan kepada perawat dan atau mahasiswa keperawatan tingkat akhir untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam menangani penderita gawat darurat karena trauma.

Latar belakang Pro Emergency menyelenggarakan pelatihan ini karena masih tingginya tingkat kematian dan kecacatan akibat kegawat-daruratan (emergency case) pada kejadian kecelakaan transportasi, industri, rumah tangga, gejolak sosial (terorisme, konflik masyarakat, kejahatan dan kekerasan) dan bencana yang tidak henti-hentinya melanda negeri ini.
Penyebab tingginya angka kematian dan kecacatan akibat kegawatdaruratan tersebut adalah tingkat keparahan, kurang memadainya peralatan, sistem yang belum memadai dan pengetahuan/keterampilan dalam penanggulangan penderita gawat darurat kurang mumpuni. Pengetahuan penanggulangan penderita gawat darurat memegang porsi besar dalam menentukan keberhasilan pertolongan. Pada banyak kejadian banyak penderita gawat darurat yang justeru meninggal atau mengalami kecacatan yang diakibatkan oleh kesalahan dalam melakukan pertolongan (kesalahan  petugas).

Oleh karena itu perlu adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan penanggulangan penderita gawat darurat pada perawat terutama yang bekerja di Unit Gawat Darurat (UGD).

Seperti kita ketahui perawat merupakan petugas yang berada digarda depan dalam penanggulangan penderita gawat darurat. Oleh karena itu pengetahuan dan keterampilan penanggulangan penderita gawat darurat trauma mutlak harus dikuasai.

Berikut ini adalah materi-materi yang dipelajari oleh peserta pada pelatihan BTLS for Nurse :


1. Introduction And Course Review

Pada awal pelatihan peserta diajak untuk mengetahui GOAL dari pelatihan BTLS for Nurse yaitu mengidentifikasi dan menangani masalah yang mengancam nyawa penderita. Peserta juga diajak untuk mengetahui sejak dini skenario dari pelatihan yang terdiri dari teori dan praktek.

2. Medical Emergency Response System

I
ni merupakan materi pertama pelatihan yang berisi tentang sistem penanggulangan penderita gawat darurat secara terpadu. Sistem yang dimaksud adalah penanggulangan yang berkesinambungan dari mulai fase pra rumah sakit, fase rumah sakit dan paska rumah sakit. Materi ini juga menekankan bahwa penanganan fase pra rumah sakit sangat penting untuk meningkatkan keberhasilan pertolongan di fase rumah sakit. Keberhasilan pertolongan di fase pra rumah sakit dan fase rumah sakit akan menentukan fase paska rumah sakit, apakah penderita pulang dengan selamat (sembuh total), cacat atau bahkan meninggal.

3. Basic Life Support

B
asic Life Support adalah penanggulangan penderita gawat darurat tanpa menggunakan alat dan obat. Pada materi ini di fokuskan pada pengetahuan dan keterampilan Resusitasi Jantung Paru (Cardio Pulmonary Resucitation-CPR). Setiap peserta harus mampu menangani penderita yang mengalami henti jantung dan henti napas dari mulai safety first, cek respons, Minta tolong, Penanganan Airway, Breathing dan Circulation. Prinsip penanganan DR ABC adalah pengetahuan dasar yang harus dipahami oleh peserta. Proses CPR yang mengadopsi revisi yang dilakukan oleh American Heart Association (AHA) pada tahun 2005.

4. Airway And Breathing : Basic And Advance

B
erdasarkan prioritas Airway, Breathing, Circulation (ABC) maka peserta harus menguasai terlebih dahulu penilaian dan penanganan masalah-masalah yang terjadi pada jalan napas dan pernapasan. Peserta harus memahami bahwa sumbatan pada jalan napas merupakan pembunuh paling cepat dari pada gangguan pada pernapasan. Goal dari materi ini peserta harus mengasai teknik pembebasan jalan napas yang terdiri dari chinlift, jaw trust, pemasangan Oro-Naso pharyngeal Air Way, Suctioning, Pemasangan ETT (Endo Tracheal Intubation) dan Nedle Crycothyroidotomy.

5. Circulation And Shock

S
etelah menguasai penanganan Airway-Breathing maka selanjutnya peserta harus menguasai tentang indentifikasi masalah pada sirkulasi. Pada sesi ini terutama dikaji mengenai syok haemoragik yang diakibatkan oleh trauma. Peserta harus mampu menjelaskan derajat syok berdasarkan kehilangan darah dan tanda vital yang bisa dikenali. Peserta juga harus mampu mengenali tanda syok secara cepat dan melakukan resusitasi cairan.

6. Initial Assessment And Management of The Trauma Patients

P
engetahuan peserta mengenai ABC akan dimanifestasikan secara terintegrasi dalam Initial Assessment And Management. Prinsip ABC merupakan modal dalam menangani penderita gawat darurat dalam rangka life saving baik secara berurutan berdasar prioritas maupun secara simultan. Secara garis besar Initial Assessment and Management terbagi dalam Primary Survey dan Secondary Survey.

7. Mechanism Of Injury

M
echanism of Injury adalah proses sebelum, saat dan setelah terjadinya trauma (kecelakaan). Hal ini penting untuk dipelajari sebagai penilaian awal kemungkinan cedera yang bisa terjadi pada penderita akibat dari kecelakaan tersebut. Sebagai contoh orang dengan riwayat pengendara sepeda motor yang tertabrak mobil dan terpental sejauh 20 meter kemungkinan akan mengalami multiple trauma termasuk cedera kepala dan curiga mengalami patah tulang leher (servical fracture).


8. Head Trauma

B
enturan kepala dengan objek pada saat terjadi kecelakaan akan mengakibatkan cedera kepala baik ringan, sedang ataupun berat. Cedera pada kepala akan mengakibatkan gangguan kesadaran. Selain itu cedera pada kepala disertai penurunan kesadaran menimbulkan kecurigaan pada cedera tulang belakang. Sehubungan dengan kesadaran maka peserta harus menguasai penghitungan skor glasgow Coma Scale (GCS) atau dengan teknik cepat AVPU (Alert, verbal, Pain, Unrespons)

9. Spinal Trauma

Tulang belakang (Spinal) terdiri dari Servikal, Thorakal, Lumbal, Sacral, dan Koksigis. Cedera pada tulang belakang yang tidak ditangani dengan benar (misal : pengangkatan yang sembarangan) akan mengakibatkan cedera tambahan (cedera sekunder) seperti kelumpuhan, henti napas, henti jantung bahkan samapi dengan kematian. Oleh karena itu peserta harus menguasai teknik stabilisasi servikal, penggunaal Long Spine Board, Teknik Log Roll, termasuk teknik mengeluarkan penderita dari medan sulit di TKP dengan teknik ekstrikasi yang benar.

10. Thoracic Trauma

C
edera pada dada akan berpengaruh pada fungsi pernapasan penderita. Peserta harus mampu mengenali masalah cedera dada yang mengancam nyawa seperti Tension Pneumothorak, Open Pneumothorak, dan Tamponade jantung. Keterampilan yang harus dikuasai oleh peserta pada cedera dada diantaranya teknik pemberian oksigen dan melakukan Chest Decompresi dengan Nedle Thorakocintesis.

11. Abdominal Trauma

T
rauma Abdomen seringkali mengakibatkan gangguan pada sirkulasi. Didalam abdomen terdapat organ hati, ginjal, usus, lambung, limpa dan Aorta. Apabila organ tersebut mengalami benturan atau luka tembus maka akan mengakibatkan perdarahan yang hebat. Keadaan yang sulit dikenali sebagai keadaan yang mengancam nyawa adalah luka tumpul (benturan) yang mengakibatkan perdarahan dalam. Hal ini karena perdarahan tersebut tidak bisa dilihat dengan mata telanjang dari luar. Seringkali apabila keadaan ini tidak bisa dikenali dengan segera akan membahayakan jiwa penderita.

12. Musculosceletal Trauma

M
ateri ini membahas tentang Fraktur, Strain, Sprain, Luka dan Perdarahan. Pada sesi ini peserta harus mampu melakukan Splinting dan Bandaging (Balut-Bidai) dengan benar.

13. Thermal Trauma (Burn)

P
eserta harus mampu mengenali luas luka bakar dengan rumus Rule Of Nine dan mengenali derajat luka bakar berdasarkan kedalaman luka. Peserta juga harus mampu menangani penderita luka bakar termasuk melakukan resusitasi cairan sesuai dengan rumus Baxter.

14. Extrication, Stabilization And Transfering Of The Patients

S
elain penanganan di dalam UGD Rumah sakit peserta juga harus mampu melakukan penanganan di lokasi kejadian. Oleh karena itu kepada peserta diajarkan cara melakukan Ekstrikasi (mengeluarkan penderita dari medan Sulit), Stabilisasi setelah penderita berada ditempat aman dan Transportasi dari TKP ke Rumah sakit rujukan.

15. Triage

T
riage adalah pemilahan penderita untuk menentukan prioritas penanganan. Apabila jumlah penderita banyak sedangkan penolong dan peralatannya terbatas (misal : pada bencana) maka dilakukan teknik Simple Triage And Rapid Treatment (START) dengan prioritas penderita dengan tingkat survival (harapan hidup) paling tinggi. Sedangkan apabila sumberdaya penolong memadai maka prioritas pertolongan adalah penderita yang paling gawat terlebih dahulu.

16. Drill And Exercise

P
elatihan ini mengedepankan kemampuan keterampilan dan pemahaman terhadap sistem pertolongan. Oleh karena itu selain harus melalui Skill Station peserta juga harus menyelesaikan Drill/latihan menangani penderita yang dikondisikan seperti keadaan yang sesungguhnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

kumpulan askep

Memuat...