Sabtu, 20 November 2010

Basic Trauma Life Support For Nurse (BTLS For Nurse)


Apa dan untuk siapa pelatihan BTLS For Nurse itu ???
Pelatihan BTLS For Nurse adalah pelatihan yang ditujukan kepada perawat dan atau mahasiswa keperawatan tingkat akhir untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam menangani penderita gawat darurat karena trauma.

Latar belakang Pro Emergency menyelenggarakan pelatihan ini karena masih tingginya tingkat kematian dan kecacatan akibat kegawat-daruratan (emergency case) pada kejadian kecelakaan transportasi, industri, rumah tangga, gejolak sosial (terorisme, konflik masyarakat, kejahatan dan kekerasan) dan bencana yang tidak henti-hentinya melanda negeri ini.
Penyebab tingginya angka kematian dan kecacatan akibat kegawatdaruratan tersebut adalah tingkat keparahan, kurang memadainya peralatan, sistem yang belum memadai dan pengetahuan/keterampilan dalam penanggulangan penderita gawat darurat kurang mumpuni. Pengetahuan penanggulangan penderita gawat darurat memegang porsi besar dalam menentukan keberhasilan pertolongan. Pada banyak kejadian banyak penderita gawat darurat yang justeru meninggal atau mengalami kecacatan yang diakibatkan oleh kesalahan dalam melakukan pertolongan (kesalahan  petugas).

Oleh karena itu perlu adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan penanggulangan penderita gawat darurat pada perawat terutama yang bekerja di Unit Gawat Darurat (UGD).

Seperti kita ketahui perawat merupakan petugas yang berada digarda depan dalam penanggulangan penderita gawat darurat. Oleh karena itu pengetahuan dan keterampilan penanggulangan penderita gawat darurat trauma mutlak harus dikuasai.

Berikut ini adalah materi-materi yang dipelajari oleh peserta pada pelatihan BTLS for Nurse :


1. Introduction And Course Review

Pada awal pelatihan peserta diajak untuk mengetahui GOAL dari pelatihan BTLS for Nurse yaitu mengidentifikasi dan menangani masalah yang mengancam nyawa penderita. Peserta juga diajak untuk mengetahui sejak dini skenario dari pelatihan yang terdiri dari teori dan praktek.

2. Medical Emergency Response System

I
ni merupakan materi pertama pelatihan yang berisi tentang sistem penanggulangan penderita gawat darurat secara terpadu. Sistem yang dimaksud adalah penanggulangan yang berkesinambungan dari mulai fase pra rumah sakit, fase rumah sakit dan paska rumah sakit. Materi ini juga menekankan bahwa penanganan fase pra rumah sakit sangat penting untuk meningkatkan keberhasilan pertolongan di fase rumah sakit. Keberhasilan pertolongan di fase pra rumah sakit dan fase rumah sakit akan menentukan fase paska rumah sakit, apakah penderita pulang dengan selamat (sembuh total), cacat atau bahkan meninggal.

3. Basic Life Support

B
asic Life Support adalah penanggulangan penderita gawat darurat tanpa menggunakan alat dan obat. Pada materi ini di fokuskan pada pengetahuan dan keterampilan Resusitasi Jantung Paru (Cardio Pulmonary Resucitation-CPR). Setiap peserta harus mampu menangani penderita yang mengalami henti jantung dan henti napas dari mulai safety first, cek respons, Minta tolong, Penanganan Airway, Breathing dan Circulation. Prinsip penanganan DR ABC adalah pengetahuan dasar yang harus dipahami oleh peserta. Proses CPR yang mengadopsi revisi yang dilakukan oleh American Heart Association (AHA) pada tahun 2005.

4. Airway And Breathing : Basic And Advance

B
erdasarkan prioritas Airway, Breathing, Circulation (ABC) maka peserta harus menguasai terlebih dahulu penilaian dan penanganan masalah-masalah yang terjadi pada jalan napas dan pernapasan. Peserta harus memahami bahwa sumbatan pada jalan napas merupakan pembunuh paling cepat dari pada gangguan pada pernapasan. Goal dari materi ini peserta harus mengasai teknik pembebasan jalan napas yang terdiri dari chinlift, jaw trust, pemasangan Oro-Naso pharyngeal Air Way, Suctioning, Pemasangan ETT (Endo Tracheal Intubation) dan Nedle Crycothyroidotomy.

5. Circulation And Shock

S
etelah menguasai penanganan Airway-Breathing maka selanjutnya peserta harus menguasai tentang indentifikasi masalah pada sirkulasi. Pada sesi ini terutama dikaji mengenai syok haemoragik yang diakibatkan oleh trauma. Peserta harus mampu menjelaskan derajat syok berdasarkan kehilangan darah dan tanda vital yang bisa dikenali. Peserta juga harus mampu mengenali tanda syok secara cepat dan melakukan resusitasi cairan.

6. Initial Assessment And Management of The Trauma Patients

P
engetahuan peserta mengenai ABC akan dimanifestasikan secara terintegrasi dalam Initial Assessment And Management. Prinsip ABC merupakan modal dalam menangani penderita gawat darurat dalam rangka life saving baik secara berurutan berdasar prioritas maupun secara simultan. Secara garis besar Initial Assessment and Management terbagi dalam Primary Survey dan Secondary Survey.

7. Mechanism Of Injury

M
echanism of Injury adalah proses sebelum, saat dan setelah terjadinya trauma (kecelakaan). Hal ini penting untuk dipelajari sebagai penilaian awal kemungkinan cedera yang bisa terjadi pada penderita akibat dari kecelakaan tersebut. Sebagai contoh orang dengan riwayat pengendara sepeda motor yang tertabrak mobil dan terpental sejauh 20 meter kemungkinan akan mengalami multiple trauma termasuk cedera kepala dan curiga mengalami patah tulang leher (servical fracture).


8. Head Trauma

B
enturan kepala dengan objek pada saat terjadi kecelakaan akan mengakibatkan cedera kepala baik ringan, sedang ataupun berat. Cedera pada kepala akan mengakibatkan gangguan kesadaran. Selain itu cedera pada kepala disertai penurunan kesadaran menimbulkan kecurigaan pada cedera tulang belakang. Sehubungan dengan kesadaran maka peserta harus menguasai penghitungan skor glasgow Coma Scale (GCS) atau dengan teknik cepat AVPU (Alert, verbal, Pain, Unrespons)

9. Spinal Trauma

Tulang belakang (Spinal) terdiri dari Servikal, Thorakal, Lumbal, Sacral, dan Koksigis. Cedera pada tulang belakang yang tidak ditangani dengan benar (misal : pengangkatan yang sembarangan) akan mengakibatkan cedera tambahan (cedera sekunder) seperti kelumpuhan, henti napas, henti jantung bahkan samapi dengan kematian. Oleh karena itu peserta harus menguasai teknik stabilisasi servikal, penggunaal Long Spine Board, Teknik Log Roll, termasuk teknik mengeluarkan penderita dari medan sulit di TKP dengan teknik ekstrikasi yang benar.

10. Thoracic Trauma

C
edera pada dada akan berpengaruh pada fungsi pernapasan penderita. Peserta harus mampu mengenali masalah cedera dada yang mengancam nyawa seperti Tension Pneumothorak, Open Pneumothorak, dan Tamponade jantung. Keterampilan yang harus dikuasai oleh peserta pada cedera dada diantaranya teknik pemberian oksigen dan melakukan Chest Decompresi dengan Nedle Thorakocintesis.

11. Abdominal Trauma

T
rauma Abdomen seringkali mengakibatkan gangguan pada sirkulasi. Didalam abdomen terdapat organ hati, ginjal, usus, lambung, limpa dan Aorta. Apabila organ tersebut mengalami benturan atau luka tembus maka akan mengakibatkan perdarahan yang hebat. Keadaan yang sulit dikenali sebagai keadaan yang mengancam nyawa adalah luka tumpul (benturan) yang mengakibatkan perdarahan dalam. Hal ini karena perdarahan tersebut tidak bisa dilihat dengan mata telanjang dari luar. Seringkali apabila keadaan ini tidak bisa dikenali dengan segera akan membahayakan jiwa penderita.

12. Musculosceletal Trauma

M
ateri ini membahas tentang Fraktur, Strain, Sprain, Luka dan Perdarahan. Pada sesi ini peserta harus mampu melakukan Splinting dan Bandaging (Balut-Bidai) dengan benar.

13. Thermal Trauma (Burn)

P
eserta harus mampu mengenali luas luka bakar dengan rumus Rule Of Nine dan mengenali derajat luka bakar berdasarkan kedalaman luka. Peserta juga harus mampu menangani penderita luka bakar termasuk melakukan resusitasi cairan sesuai dengan rumus Baxter.

14. Extrication, Stabilization And Transfering Of The Patients

S
elain penanganan di dalam UGD Rumah sakit peserta juga harus mampu melakukan penanganan di lokasi kejadian. Oleh karena itu kepada peserta diajarkan cara melakukan Ekstrikasi (mengeluarkan penderita dari medan Sulit), Stabilisasi setelah penderita berada ditempat aman dan Transportasi dari TKP ke Rumah sakit rujukan.

15. Triage

T
riage adalah pemilahan penderita untuk menentukan prioritas penanganan. Apabila jumlah penderita banyak sedangkan penolong dan peralatannya terbatas (misal : pada bencana) maka dilakukan teknik Simple Triage And Rapid Treatment (START) dengan prioritas penderita dengan tingkat survival (harapan hidup) paling tinggi. Sedangkan apabila sumberdaya penolong memadai maka prioritas pertolongan adalah penderita yang paling gawat terlebih dahulu.

16. Drill And Exercise

P
elatihan ini mengedepankan kemampuan keterampilan dan pemahaman terhadap sistem pertolongan. Oleh karena itu selain harus melalui Skill Station peserta juga harus menyelesaikan Drill/latihan menangani penderita yang dikondisikan seperti keadaan yang sesungguhnya.

anoreksia nervosa


Anorexia Nervosa
Anoreksia dan bulimia merupakan gangguan makan yang menyiksa, dimana kedua keadaan itu sama bahayanya bagi tubuh. Gangguan tersebut dihasilkan oleh ketakutan bahwa tubuh akan menjadi gemuk setelah makan, dan ketakutan mental itu akan terpancar melalui penyiksaan fisik. Gejala umum anoreksia dan bulimia yaitu depresi,
kepercayaan diri yang rendah, penampilan yang tidak proporsional, hubungan keluarga yang terganggu, nafsu makan berkurang, sulit mengontrol emosi, mudah terjangkit penyakit, berat badan ringan, dan kekurangan nutrisi.  
Ciri khas penderita anoreksia antara lain sebagai berikut:
1.      Biasanya penderita adalah wanita, baik remaja, dewasa atau yang baru memasuki masa puber.
2.      Tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menekankan pentingnya prestasi sebagai nilai kebanggaan keluarga.
3.      Mempunyai perhatian yang berlebihan tentang kesempurnaan penampilan.
4.      Mempunyai orang tua yang sangat sibuk dengan dunia mereka sendiri. Penderita anoreksia biasanya merasa harus menjadi sempurna agar mendapat perhatian dari orang tua mereka.
5.      Ditandai dengan perubahan fisik seperti rambut rontok, terhentinya ovulasi dan menstruasi, detak jantung melambat, tekanan darah rendah dan tidak mampu menahan rasa dingin.
6.      Biasanya memiliki tingkat depresi yang lebih parah dibandingkan penderita bulimia.
7.      Rentan terkena osteoporosis karena asupan kalsium yang rendah.
8.      Dapat menyebabkan kerusakan hati dan organ-organ vital lainnya jika berat badannya turun dibawah batas normal.  

Ciri khas penderita bulimia adalah sebagai berikut:
1.    Penderita lebih sulit dideteksi karena berat tubuh mereka bisa saja melebihi batas normal, di bawah batas normal, atau bahkan mempunyai berat tubuh yang normal.
2.    Biasanya penderita adalah wanita, baik remaja maupun dewasa muda.
3.    Ciri utamanya dapat dilihat dari pola makan seperti makan dalam jumlah yang banyak dan kemudian dimuntahkan kembali atau mengonsumsi obat pencahar dan obat diuretik untuk memuntahkan kembali makanan yang telah disantap.
4.    Mempunyai beberapa masalah kesehatan yang muncul akibat kebiasaan memuntahkan kembali makanan setelah disantap, seperti terjadinya luka pada dinding perut, radang pada usus buntu, denyut jantung tidak teratur, kerusakan pada ginjal karena rendahnya asupan potasium, rusaknya email gigi karena terciptanya produksi asam yang berlebihan ketika muntah, dan terhentinya menstruasi.
5.    Kemarahan tertahan karena ketidakmampuan untuk mengekspresikan emosi dengan cara yang lazim. Biasanya penderita bulimia takut mengecewakan orang-orang yang mereka cintai dalam lingkungan mereka.  Bulimia dapat diikuti dengan terjadinya anoreksia, demikian pula sebaliknya. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kelainan dalam pola makan seperti kelainan genetik, tekanan sosial untuk menjadi langsing, tekanan dari teman sebaya, dan lain-lain. Penerimaan dari lingkungan merupakan langkah awal penyembuhan kelainan anoreksia dan bulimia. Kebanyakan penderita tetap tinggal dalam penyangkalan dan menolak untuk ditolong.  
Anjuran
Langkah penyembuhan lain adalah dengan melakukan psikoterapi pada penderita, keluarga maupun lingkungan tempat penderita berasal. Pemberian obat, termasuk antidepresan, kadang-kadang dibutuhkan dalam situasi tertentu. Terapi gizi juga penting sebagai asupan vitamin dan mineral bagi penderita. Namun jika langkah-langkah tersebut tidak membawa hasil, satu-satunya cara yaitu dengan membawa penderita ke rumah sakit untuk diopname, terutama bagi penderita anoreksia. Itu dilakukan jika berat badan penderita menurun hingga 25% dari berat normal atau jika organ-organ vital dalam tubuh mengalami cedera. Ingatlah bahwa pola makan sehat adalah cara hidup yang terbaik. Jangan biarkan diri kita di bawah tekanan sosial atau teman sebaya. Satu lagi yang terpenting, tetaplah percaya diri sebab nilai personaliti kita tidak ditentukan oleh seberapa kurus atau gemuknya tubuh kita. 

Rabu, 17 November 2010

ASKEP HYPERTENSI

ASKEP HIPERTENSI


  1. Pengertian
Hipertensi adalah peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan diastolic 120 mmHg (Sharon, L.Rogen, 1996).
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHG dan tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmHG (Luckman Sorensen,1996).
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolic 90 mmHg ataulebih. (Barbara Hearrison 1997)
  1. Etiologi
Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer.
Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:

    • Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atautransport Na.
    • Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkantekanan darah meningkat.
    • Stress Lingkungan.
    • Hilangnya Elastisitas jaringan and arterisklerosis pada orang tua sertapelabaran pembuluh darah.
Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:
5. Hipertensi Esensial (Primer)
Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi seperti genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik, systemrennin angiotensin, efek dari eksresi Na, obesitas, merokok dan stress.
6. Hipertensi SekunderDapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vakuler renal.
Penggunaan kontrasepsi oral yaitu pil. Gangguan endokrin dll.
3. Patofisiologi
Menurunnya tonus vaskuler meransang saraf simpatis yang diterukan ke seljugularis. Dari sel jugalaris ini bias meningkatkan tekanan darah. Danapabila diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi pada rennin yang berkaitan dengan Angiotensinogen. Dengan adanya perubahan pada angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh darah, sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.Selain itu juga dapat meningkatkan hormone aldosteron yang menyebabkanretensi natrium. Hal tersebut akan berakibat pada peningkatan tekanandarah. Dengan Peningkatan tekanan darah maka akan menimbulkan kerusakan pada organ organ seperti jantung.
  1. Manifestasi Klinis
    Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah :

    • Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg
    • Sakit kepala
    • Epistaksis
    • Pusing / migrain
    • Rasa berat ditengkuk
    • Sukar tidur
    • Mata berkunang kunang
    • Lemah dan lelah
    • Muka pucat
    • Suhu tubuh rendah
  1. Pemeriksaan Penunjang
    • Pemeriksaan Laborat
      • Hb/Ht : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan(viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko seperti : hipokoagulabilitas, anemia.
      • BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal.
      • Glucosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapatdiakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin.
      • Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal danada DM.
    • CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati
    • EKG : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
    • IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu ginjal,perbaikan ginjal.
    • Photo dada : Menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup,pembesaran jantung.
  1. Penatalaksanaan
    • Penatalaksanaan Non Farmakologis
1. DietPembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB dapat menurunkan tekanan darah dibarengi dengan penurunan aktivitas rennin dalam plasma dan kadar adosteron dalam plasma.
2. Aktivitas
Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan denganbatasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan, jogging,bersepeda atau berenang.

    • Penatalaksanaan Farmakologis
      Secara garis besar terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu:
0. Mempunyai efektivitas yang tinggi.
1. Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal.
2. Memungkinkan penggunaan obat secara oral.
3. Tidak menimbulakn intoleransi.
4. Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien.
5. Memungkinkan penggunaan jangka panjang.
Golongan obat – obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi sepertigolongan diuretic, golongan betabloker, golongan antagonis kalsium,golongan penghambat konversi rennin angitensin.
Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Hipertensi
  1. Pengkajian
    • Aktivitas/ Istirahat
      • Gejala : kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.
      • Tanda :Frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea.
    • Sirkulasi
      • Gejala :Riwayat Hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup dan penyakit cebrocaskuler, episode palpitasi.
      • Tanda :Kenaikan TD, Nadi denyutan jelas dari karotis, jugularis,radialis, tikikardi, murmur stenosis valvular, distensi vena jugularis,kulit pucat, sianosis, suhu dingin (vasokontriksi perifer) pengisiankapiler mungkin lambat/ bertunda.
    • Integritas Ego
      • Gejala :Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, factor stress multiple(hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan.
      • Tanda :Letupan suasana hat, gelisah, penyempitan continue perhatian,tangisan meledak, otot muka tegang, pernafasan menghela, peningkatan pola bicara.
    • Eliminasi
      • Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau (seperti obstruksi atau riwayatpenyakit ginjal pada masa yang lalu).
    • Makanan/cairan
      • Gejala: Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam, lemak serta kolesterol, mual, muntah dan perubahan BB akhir akhir ini(meningkat/turun) Riowayat penggunaan diuretic
      • Tanda: Berat badan normal atau obesitas,, adanya edema, glikosuria.
    • Neurosensori
      • Genjala: Keluhan pening pening/pusing, berdenyu, sakit kepala,subojksipital (terjadi saat bangun dan menghilangkan secara spontansetelah beberapa jam) Gangguan penglihatan (diplobia, penglihatan kabur,epistakis).
      • Tanda: Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara,efek, proses piker, penurunan keuatan genggaman tangan.
    • Nyeri/ ketidaknyaman
      • Gejala: Angina (penyakit arteri koroner/ keterlibatan jantung),sakitkepala.
    • Pernafasan
      • Gejala: Dispnea yang berkaitan dari kativitas/kerja takipnea,ortopnea,dispnea, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok.
      • Tanda: Distress pernafasan/penggunaan otot aksesori pernafasan bunyinafas tambahan (krakties/mengi), sianosis.
    • Keamanan
      • Gejala: Gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi postural.
  1. Diagnosa Keperawatan yang Muncul
    • Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular.
    • Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.
    • Gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.
    • Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi.
  1. Intervensi
    Diagnosa Keperawatan 1. :
    Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular.
    Tujuan : Afterload tidak meningkat, tidak terjadi vasokonstriksi, tidak terjadi iskemia miokard.
    Kriteria Hasil : Klien berpartisifasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah / bebankerja jantung , mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapatditerima, memperlihatkan norma dan frekwensi jantung stabil dalam rentangnormal pasien.
    Intervensi :
    • Pantau TD, ukur pada kedua tangan, gunakan manset dan tehnik yang tepat.
    • Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer.
    • Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas.
    • Amati warna kulit, kelembaban, suhu dan masa pengisian kapiler.
    • Catat edema umum.
    • Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas.
    • Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditemapt tidur/kursi
    • Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan
    • Lakukan tindakan yang nyaman spt pijatan punggung dan leher
    • Anjurkan tehnik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan
    • Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah
    • Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi
    • Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi.
Diagnosa Keperawatan 2. :
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.
Tujuan : Aktivitas pasien terpenuhi.
Kriteria Hasil :Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang di inginkan / diperlukan,melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.
Intervensi :

    • Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas dengan menggunkan parameter :frekwensi nadi 20 per menit diatas frekwensi istirahat, catat peningkatanTD, dipsnea, atau nyeridada, kelelahan berat dan kelemahan, berkeringat,pusig atau pingsan. (Parameter menunjukan respon fisiologis pasienterhadap stress, aktivitas dan indicator derajat pengaruh kelebihan kerja/ jantung).
    • Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh : penurunan kelemahan / kelelahan, TD stabil, frekwensi nadi, peningkatan perhatian padaaktivitas dan perawatan diri. (Stabilitas fisiologis pada istirahatpenting untuk memajukan tingkat aktivitas individual).
    • Dorong memajukan aktivitas / toleransi perawatan diri. (Konsumsioksigen miokardia selama berbagai aktivitas dapat meningkatkan jumlah oksigen yang ada. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatantiba-tiba pada kerja jantung).
    • Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan kursi mandi, menyikat gigi / rambut dengan duduk dan sebagainya. (teknik penghematan energi menurunkan penggunaan energi dan sehingga membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen).
    • Dorong pasien untuk partisifasi dalam memilih periode aktivitas.(Seperti jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas danmencegah kelemahan).
Diagnosa Keperawatan 3. :
Gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral
Tujuan : Tekanan vaskuler serebral tidak meningkat.
Kriteria Hasil asien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala dan tampak nyaman.
Intervensi :

    • Pertahankan tirah baring, lingkungan yang tenang, sedikit penerangan
    • Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan.
    • Batasi aktivitas.
    • Hindari merokok atau menggunkan penggunaan nikotin.
    • Beri obat analgesia dan sedasi sesuai pesanan.
    • Beri tindakan yang menyenangkan sesuai indikasi seperti kompres es, posisi nyaman, tehnik relaksasi, bimbingan imajinasi, hindari konstipasi.
Diagnosa keperawatan 4. :
Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi.
Tujuan : Sirkulasi tubuh tidak terganggu.
Kriteria Hasil asien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti ditunjukkan dengan : TD dalam batas yang dapat diterima, tidak ada keluhan sakit kepala, pusing, nilai-nilai laboratorium dalam batas normal.
Intervensi :

    • Pertahankan tirah baring; tinggikan kepala tempat tidur.
    • Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan; tidur, duduk dengan pemantau tekanan arteri jika tersedia.
    • Pertahankan cairan dan obat-obatan sesuai pesanan.
    • Amati adanya hipotensi mendadak.
    • Ukur masukan dan pengeluaran.
    • Pantau elektrolit, BUN, kreatinin sesuai pesanan.
    • Ambulasi sesuai kemampuan; hindari kelelahan.

Minggu, 14 November 2010

mengenal aplikasi nanda


Mengenal diagnosis keperawatan
31. Impaired verbal Communication – Gangguan komunikasi verbal
32. Readiness for enhanced Communication
33. Decisional Conflict
34. Parental role Conflict
35. Acute Confusion – Kebingungan akut
36. Chronic Confusion – Kebingungan kronis
37. Risk for Acute Confusion – Resiko kebingungan akut
38. Constipation - Konstipasi
39. Perceived Constipation
40. Risk for Constipation – Resiko konstipasi
21. Ineffective Breathing pattern – Pola nafas tidak efektif
22. Decreased Cardiac output – Penurunan cardiac output
23. Risk for decreased Cardiac perfusion – Resiko penurunan perfusi jantung*
24. Risk for ineffective Cardiac tissue perfustion – Resiko perfusi jaringan jantung tidak efektif*
25. Caregiver role strain
26. Risk for Caregiver role strain
27. Risk for ineffective Cerebral tissue perfusion – Resiko pefusi jaringan cerebral tidak efektif*
28. Readiness for enhanced Childbearing process
29. Readiness for enhanced Comfort
30. Impaired Comfort - Gangguan kenyamanan*

11. Autonomic dysreflexia
12. Risk for Autonomic dysreflexia
13. Risk prone health Behavior
14. Risk for Bleeding - Resiko perdarahan*
15. Disturbed Body image – Gangguan citra tubuh
16. Risk for imbalanced Body temperature – Resiko ketidakseimbangan suhu tubuh*
17. Bowel incontinence – Inkontinensia bowel/alvi
18. Effective Breastfeeding
19. Ineffective Breastfeeding – Pemberian ASI tidak efektif
20. Interrupted Breastfeeding – Gangguan pemberian ASI
NANDA-I 2007-2008 berisi 188 diagnosis keperawatan, termasuk 26 diagnosis yang direvisi (misal: gangguan pola tidur — insomnia) dan 15 dianosis baru (resiko ketidakstabilan gula darah). Taksonomi masih menggunakan taksonomi II.
NANDA-I terbaru 2009-2011, berisi tambahan 21 diagnosis keperawatan baru (*), 9 diagnosis revisi dan beberapa diagnosis yang tidak digunakan lagi. Total diagnosis keperawatan sampai saat ini adalah 205 diagnosis. Biasanya NANDA-I akan direvisi setiap 2 tahun, tetapi kali ini NANDA-I menerbitkan daftar diagnosisnya untuk kurun waktu tiga tahun.
Tugas-tugas rutin membuat saya hampir lupa jika NANDA yang 2007-2008 sudah akan expired. Untungnya, sang sahabat forward email yang masuk ke tempatnya tentang NANDA yang akan datang. Pertanyaan yang beliau sampaikan ke saya: Would you use this book? Saya jawab: Yes, of course! Tetapi jujur saja, I do not have a credit card for that. Dan beliau tertawa di emailnya: How funny you are, Christina! Ujung-ujungnya, dengan senang hati beliau akan order untuk saya. He is very helpful. Dan tunggu saja review dari saya tentang NANDA 2009-2010, saat si buku sudah berada di tangan saya. Hum… Cannot wait longer…..
Menurut taksonomi II NANDA 2007-2008, diagnosis yang berhubungan dengan fungsi pernafasan adalah:
1.     Ineffective airway clearance (bersihan jalan nafas tidak efektif)
2.     Risk for aspiration (risiko aspirasi)
3.     Ineffetive breathing pattern (pola nafas tidak efektif)
4.     Impaired gas exchange (gangguan pertukaran gas)
5.     Risk for suffocation
6.     Impaired spontaneous ventilation (gangguan ventilasi spontan)
7.     Dysfungsional ventilatory weaning response
Dari sekian banyak diagnosis keperawatan untuk fungsi pernafasan, diagnosis nomer 1, 3 dan 4 mungkin adalah diagnosis yang paling sering digunakan. 
Berikut ini beberapa diagnosis keperawatan yang berhubungan dengan eliminasi:
1.     Bowel incontinence (p. 22) atau inkontinensia alvi/faeces. Perubahan pola kebiasaan defekasi. Bisa diakibatkan oleh diare kronis, pola makan, immobilisasi, stres, pengobatan, kurang kebersihan pada saat toileting, dll. Bedakan dengan diagnosis “Diare”. Pada diagnosis ini, faeces biasa, hanya polanya saja yang berubah. Misalnya rutin sehari sekali, karena faktor-faktor yang berhubungan, menjadi dua atau tiga hari sekali. 
2.     Diarrhea (p. 71) atau diare. Data utamanya adalah faeces tidak berbentuk sampai dengan cair. Indokator utamanya adalah buang air besar (cair) minimal tiga kali dalam satu hari. Hasil auskultasi abdomen, kram perut dan nyeri perut merupakan tanda-gejala yang lainnya. Faktor yang berhubungan dibagi menjadi tiga kelompok; fisiologis, psikologis dan situasional. Misalnya karena kecemasan, tingkat stres tinggi, proses peradangan, iritasi, malabsorpsi, keracunan, perjalanan jauh, konsumsi alkohol dan pengaruh radiasi.  

Di dalam NANDA 2007-2008, setidaknya ada lima diagnosis yang berhubungan dengan aktivitas:
1.     Activity intolerance (p. 3) atau intoleransi aktivitas
2.     Risk for activity intolerance (p. 4) atau resiko intoleransi aktivitas
3.     Impaired bed mobility (p. 136) atau gangguan mobilitas di tempat tidur
4.     Impaired physical mobility (p. 138) atau gangguan mobilitas fisik
5.     Impaired wheelchair mobility (p. 140) atau gangguan mobilitas dengan kursi roda



















kumpulan askep